MUNCULNYA MADZAB-MADZAB DAN PERANANNYA DALAM SOSIO KULTURAL

MUNCULNYA MADZAB-MADZAB DAN PERANANNYA DALAM
SOSIO KULTURAL
Bashir

Pendahuluan
Cikal bakal munculnya madzab fiqih dalam Islam, sebenarnya dimulai semenjak zaman Rasulullah, terbukti dari respon para sahabat dalam memahami sabda Rasulullah. Umpamanya junub berguling-guling di tanah karena tidak ada air, pemahaman para sahabat atas perintah Rasulullah untuk tidak sholat Ashr kecuali di kampung Bani Quraidzah.
Ketika wilayah Islam bertambah luas, para sahabat menyebar ke berbagai wilayah. Misalnya: Abdullah bin Mas’ud di Iraq sebagai wazir di Kufah. Syuraikh sebagai qadli di Kufah dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang berkedudukan di Kufah.1 Di Madinah sendiri ada Abdullah bin Umar, Aisyah dan Ibnu Abbas.2
Di kota-kota tersebut para sahabat mengajarkan agama Islam kepada para penduduk sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan kebutuhan dan permasalahan penduduk setempat. Karenanya bisa diduga tuntutan di Madinah tentu berbeda dengan di Kufah. Dan tentu pula karena perbedaan ini maka prioritas dan model pengajaran di Madinah dan Kufah bisa jadi berbeda.yang insyâ allah akan diuraikan di sub selanjutnya. Model pengajaran ini terus dilanjutnya oleh murid-muridnya
Kemudian perkembangan madzab ini mencapai puncaknya pada akhir abad pertama H dan pada awal abad ke dua H 3 hingga pada pertengahan abad ke empat H dengan melembaganya berbagai madzab. Namun yang tetap eksis hingga sekarang dan diikuti oleh orang Islam ada empat madzab secara urut adalah:. Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali.4

Metode Penelitian
Kajian ini merupakan kajian kepustakaan. Dan makalah ini bertujuan menjelaskan 2 (dua) hal yakni: 1) kemunculan madzab dalam pergumulannya dengan sejarah dan 2) peranannya dalam sosio kultural. Pendekatan kajian yang dipilih adalah historis sosiologis. Pendekatan historis berarti menjelaskan berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku peristiwa tersebut.Maka menurut pendekatan ini semua peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Sedangkan pendekatan sosiologis dimaksudkan untuk menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia, cara-cara dan tumbuh kembang serta perubahan perserikatan-perserikatan itu, juga menjelaskan hubungan-hubungan yang timbul serta faktor-faktor pendorongnya.
Untuk lebih bisa memahami tentang madzab-madzab tersebut, perlu pula disinggung mengenai kondisi sosial politik yang melingkupi kemunculan madzab, dan kondisi keagamaan dan keilmuan saat itu serta sedikit sejarah singkat tentang pendirinya

Suasana Keilmuan dan Sosial Budaya
Akhir abad pertama hijrah dan awal abad kedua hijrah merupakan masa pemerintahan dinasti Umayah dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) mendekati berakhirnya dinasti Umayah pada masa kekhalifahan Marwan II tahun 127-132 H ke tangan Bani Abasiyah.. Bani Umayah memerintah dari tahun 41 H hingga 132 H selama kurang lebih 91 tahun.
Secara umum suasana keilmuan pada zaman Umayyah menunjukkan adanya kegairahan keilmuan terutama masalah hukum, sejarah, hadits terutama di Mekkah. Madinah dan Kufah. Damaskus sebagai ibu kota tampak kurang bergairah dalam keilmuan..5 Sumbangan-sumbangan utama pertumbuhan fiqih berasal dari Kufah dan Medinah. Kemudian memudar seiring dengan bangkitnya Baghdad. Zaman Umayah telah memunculkan embrio bagi perkembangan keilmuan yang dilanjutkan pada masa Abasiyah.6 W. Montgomery Watt 7 mencatat bahwa madzab-madzab fiqih berkembang pesat pada masa Abasiyah. Madzab –madzab ini secara garis besar mengembangkan dua model yakni madzab dengan asas ra’yu dan hadits ( tradisi). Kufah mengembangkan asas ra’yu dan Medinah mengembangkan asas hadits. Dalam perkembangannya dua bentuk madzab ini mengambil sikap sama-sama ekstrem dalam memegangi madzabnya. Bentuk-bentuk argumen pembenar aliran madzab nampak sudah di luar arena intelektual dan lebih bersifat emosional.8
Pusat keilmuan terutama di Hijaz (Makkah dan Madinah) serta Iraq ( Kufah, Baghdad, Basrah). Karenanya dapat dikatakan, merujuk pada pembagian kedaerahan, ada dua aliran keilmuan saat itu terutama untuk Fiqh, yakni aliran Hijaz dan Kufah. Masing-masing memiliki ciri tersendiri. Di Madinah, dalam bidang pemikiran lebih bersahaja termasuk pula dalam masalah akidah, lain halnya dengan Kufah yang sat itu telah muncul berbagai aliran semacam Mu’tazilah dan Murji’ah. Sepeninggal Rsulullah di Hijaz ada sekitar dua belas ribu (12.000) sahabat, Sepuluh ribu menetap dan meninggal di Hijaz, dua ribu lainnya menyebar keberbagai wilayah. Karena itu di Hijaz bisa dikatakan berlebihan hadits sementara keperluannya sedikit, sedang di Kufah keperluannya banyak sedangkan haditsnya berkekurangan.
Secara sosial dapat diketahui berdasarkan tulisan-tulisan sejarah bagaimana hebatnya Kufah sebagai kota dengan penduduk multi etnis, Persia, Arab, Rumawi dan lainnya. Kesemuanya mempunyai adat kebiasaan sendiri dalam sosial ekonomi yang berbaur dan membentuk suatu budaya baru9 yang relatif berbeda dengan zaman Rasulullah. Sementara Madinah relatif sama dan tidak banyak berbeda dengan zaman Rasulullah. Kemakmuran penduduk Kufah tentu pula membawa pengaruh yang tidak sedikit dalam pola-pola atau gaya hidup. Dimana kesemuanya membutuhkan landasan keagamaan sebagai mana yang menjadi ciri umum pemikiran zaman itu, maka di sinilah peran ra’yu yang dipandu Al qur’an dan Assunnah diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Pada masa Abasiyah hampir seluruhnya tidak pernah terlewatkan dari gocangan-goncangan politik yang terus menerus mendera pemerintahan Abasiyah.10
Pertautan Tahun Imam Madzab Dan Para Khalifah
Nu’man bin Tsabit bin Zautha populer dengan Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H hingga 150 H di Kufah. Jadi masa mudanya pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayah hingga pemerintahan Abu Ja’far al manshur dari bani Abasiyah (137-159). Dengan demikian terjadinya perpindahan kekuasan umur Abu Hanifah sekitar 53 tahun , Abu Hanifah dikarunia usia selama 70 tahun
Adapun Imam Malik dilahirkan di Madinah pada 93 H dan meninggal pada 179 H. Ia dikarunia umur 86 tahun. Masa kecil dan remaja dalam kekhalifahan Umayah (Walid bin Abdul Malik 86-96 H, dan masa tua di kekhalifahan Abasiyah pada masa kekhalifahan Abasiyah ke lima Ja’far Harun al Rasyid (170-193 H).
Imam Syafi’I lahir di Ghuzzah-daerah Palestina tahun 150 H, bertepatan dengan tahun meningalnya Abu Hanifah, hingga tahun 204 H. Ia berumur 54 tahun. Dengan demikian masa kecilnya pada pemerintahan Abasiyah pada akhir khalifah kedua Abu Ja’far al Manshur (136-158 H) hingga kekhalifahan enam tahun awal kekhalifahan Al Ma’mun (198-218 H)
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal lahir di Baghdad pada tahun 163 H dan meninggal tahun 241 H. Ia berumur 78 tahun. Masa kecilnya pada akhir pemerintahan khalifah ketiga Abasiyah yakni Abu Abdullah Muhammad Al Mahdi ( 158-169 H). hingga khalifah Abasiyah ke sepuluh Abu Fadl Ja’far Al Mutawakkil ( 232-247 H).
Bani Abbas mulai memerintah pada tahun tahun 133 H dengan Khalifah pertama adalah Abul Abbas Assaffah (133-137). Bani Abbas memerintah dengan mendapatkan landasan yang kokoh dari Bani Ummayah.
Peranannya Terhadap Sosio Kultural
Kemunculan madzab fiqih bisa dikelompokkan berdasar aliran pemikiran dalam pengistinbatan hukum. Berdasar ini maka ada dua aliran utama, yakni aliran hadits dan aliran ra’yu. Seperti dikemukakan di muka kedua aliran ini benihnya sudah nampak pada zaman Rasulullah sendiri., namun mulai nampak jelas pada periode pertumbuhan fiqih ke tiga yakni tahun 41 H sampai awal abad 2 H. Aliran hadits lebih berpegang teguh kepada hadits dan nash karena menghendaki hukum-hukum fiqih itu benar-benar asli dari Rasulullah dan menolak berpegang kepada ra’yu. Sedang aliran ra’yu lebih mengutamakan penggunaan ra’yu dalam memecahkan hukum dengan mendasarkan kepada nash-nash umum bila tidak didapati nash khususnya. Aliran ini juga memperluas kajian hukum kepada cabang-cabang yang banyak seperti suami yang menceraikan istrinya dengan setengah talak, atau bersumpah akan menceraikanistrinya bila si istri lebih cantik dari bulan. Masalah utama perbedaan sesungguhnya bukan pada mau atau tidaknya memakai Al Sunnah sebagai hujah hukum, tapi perbedaan ini lebih dipicu oleh penggunaan ra’yu dan memperluas masalah-masalah hukum berdasar ra’yu.
Secara umum aliran ra’yu tumbuh subur di Kufah Irak tempat di mana Abu Hanifah tinggal. Sedang aliran sunnah tumbuh di Madinah tempat Imam Malik bin Anas. Sebagaimana diketahui bahwa benih keduanya muncul semenjak zaman Nabi di mana kemudian menyebar ke pelbagai kota dan tiap kota ada beberapa sahabat yang mengajarkan fiqh. Dan bahwa kota kondisi Madinah dengan Kufah sangat berbeda. Madinah relatif tenang, masyarakat cenderung religius, kejujuran masih sangat melekat dan sangat memelihara tradisi yang ditinggalkan oleh Nabi dan para sahabat. Sementara Kufah kota dengan tingkat mobilitas yang tinggi, penduduknya lebih dinamis, persoalan yang kemasyarakatan juga cenderung meningkat dan semakin komplek.Persaingan hidup lebih ketat dan keras. Kufah merupakan kota metropolitan kala itu. Peredaran sunnah juga lebih kecil dibandingkan Madinah dan Makkah..
Secara geografis ada beberapa aliran yakni aliran Hijaz ,Kufah dan Mesir. Aliran Hijaz lebih cenderung menggunakan aliran hadits dan aliran Kufah memilih aliran ra’yu. Kecenderungan Hijaz dengan haditsnya maupun kecenderungan Kufah dengan ra’yu itu bukan semata-mata Hijaz dan Kufahnya. Namun lebih didorong oleh kecenderungan ahli fiqihnya. Karenanya di Hijaz sendiri (Madinah) bisa diketemukan seorang ulama’ yang beraliran ra’yu yang merupakan guru Imam Malik bin Anas, ia adalah Rabi’ah Al Ra’yi , disebut al Ra’yi kaena kecenderungannya untuk menggunakan ra’yu dari pada hadits. Dan begitu terkenalnya Irak (Kufah) sebagai kandang aliran ra’yi maka suatu ketika Rabi’ah al Ra’yi ini ditanya oleh Sa’id bin Musayyib, Apakah anda orang Irak ?. Kisah ini menegaskan bahwa ada identifikasi aliran fiqih berdasar kriteria geografis yang kriteria ini menjelaskan aliran fiqih yang dianutnya. Sementara Aliran Mesir ada penokongnya semisal al Syafi’I ketika telah pindah ke Mesir serta al Laitsi. Aliran Mesir merupakan perpaduan antar aliran Hijaz dan Kufah.
Perlu dikemukakan pula, aliran ra’yu berkembang di Irak ( Kufah) karena di daerah ini kekurangan hadits pada awalnya dan pada akhirnya justru merasa takut untuk mengamalkan hadits karena kesulitan untuk membedakan mana hadits shahih dan yang tidak shahih, ini terjadi tentu setelah hadtis meluas dan kecenderungan orang untuk mudah mengtasnakan hadits dan belum adanya kriteria penilian hadits.
Pengelompokan kemunculan madzab dalam aliran politik bisa ditemukan adanya aliran syi’ah, khawarij dan ahlusunnah. Aliran –aliran inipun pada akhirnya membentuk aliran –aliran yang lebih kecil.
Sedikit penjelasan mengenai pengelompokan terakhir ini , bisa dikemukan berikut ini. Khawarij yakni pada mulanya merupakan kelompok politik pada akhirnya juga membentuk semacam madzab fiqih tersendiri. Di antara pendapatnya adalah bahwa seseorang yang akan sholat harus suci badan, hati dan lidah. Orang yang memaki orang lain dipandang tidak suci. Pezina muhsan tidak dirajam, tapi cukup dijilid saja. Alran ini terbagi menjadi beberapa aliran : 1) Aliran Iyadhiyah yang dipimpin oleh Iyadh al Tamimy (85 H) . Ajaranya hampir sama dengan madzab emapat kalangan sunni, 2) al Zariqah pengikut Nafi’ bin Azraq, 3) Najdiyah pengikut Najdah bin Amir, 4) Shafariyah, pengikut Abdullah bin Shafar Al Najwa
Aliran Syi’ah juga terpecah menjadi aliran-aliran kecil, di antara aliran yang terkenal ialah 1) Syi’ah Imamiyah yang menonjolkan 12 imam. Dalam fiqih mereka berpendapat bahwa ijma’ dan qiyas tidak diakui, wajib kafarat dan qadla bagi orang yang sengaja membatalkan puasa, membolehkan nikah mut’ah. Syi’ah Imamiyah merupakan madzan negara Iran sejak dinasti Shafahiyah (707 H) . Madzab ini dibangun oleh abu Ja’far Muhammad bin Hasan bin Farukh al Qumi (250 H) dan diteruskan oleh Ibn Ya’kub bin Ashak al Kulaini ( 328 H).
Selain di atas adalah Syi’ah Ismailiyah yakni yang menolak Musa Al kadzim menjadi Imam, sebagai gantinya mengangkat Ismail sebagi imam. Madzab ini lahir di Mesir dan akhirnya dikuti kekhalifahan Fathimiyah di Mesir juga.
Di samping dua aliran Syi’ah di muka, ada dua aliran lagi yang sering dibahas dan dikutip pendapatnya dalam masalah hukum, yakni Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Ja’fariyah.
Madzab Syi’ah Zaidiyah dikembangkan oleh Zaid bin Ali Zain al ‘Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib (80-122 H) . Syahid dalam peperangan melawan rezim Ummayah..Pada Awalnya ia belajar dari ayahnya dan kalangan ulama’ Syiah. Dalam pengembaraan keilmuannya di Kufah ia banyak melakukan kontak dengan ulama’ kalangan sunni, hal ini menjadikan fiqihnya tidak jauh berbeda dengan fiqih sunni, kecuali dalam beberapa hal kecil, semacam mengharmkan menikah dengan wanita kitabiyah, mengharamkan makan sembilah non muslim.
Madzab Ja’fariyah dikembangkan oleh Ja’far Al Shadiq bin Muhammad al Baqir (80- 148 H). ja’far belajar fiqih bersama dengan Zaid dari bapak Zaid yakni Ali Zainal ‘Abidin. Kalau akhirnya Zaid menuju Kufah, Ja’far tinggal di Madinah dan banyak mempelajari hadits dan fiqih dari kakeknya (pihak ibu) yang merupakan salah seorang tujuh serangkai ulama Madinah yakni Qasim bin Muhammad. Bila Zaid menerima qiyas, sebaliknya Ja’far menolak keras qiyas dan cenderung menggunakan aliran hadits ciri umum aliran fiqih Madinah serta pemikiran imam sendiri yang berpijak pada maslahah.
Sesungguhnya kepada Ja’far ini, madzab syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah dinisbatkan. Madzab Ja’fariyah dikembangkan oleh muridnya yakni Abu Ja’far bin al Hasan bin Farukh al shafar al Qumi (290H). Dialah sebenarnya pendiri madzab Ja’fariyah di Iran.
Adapun aliran Ahl Al Sunnah wa Aljama’ah (aliran Sunni) juga terbagi menjadi banyak aliran, namun yang masih eksis hingga sekarang dan terkenal adalah madzab Hanafi, madzab Maliki, madzab Syafi’I dan madzab Hanbali. Disamping empat madzab ini ada beberapa madzab kecil yang tidak populer, dari madzab kecil ini yang sempat tumbuh adalah madzab al Awza’I, dibangun oleh Abu ‘Amr ‘Abd al Rahman bin Muhammad al Awza’I, lahir di Syam (88-157 H) . Ia lebih cenderuing ke aliran hadits. Saat itu madzab ini tumbuh di Syam dan Andalus.
Madzab Sufyan al Tsauri didirkan oleh ‘Abd Allah Sufyan bin Sa’id al Tsauri al Kufi. Lahir di Kufah (97-161 H). Ia juga termasuk aliran hadits. Madzab ini meiliki pengikut sedikit.
Selanjutnya adalah madzab al Laits bin Sa’d. Lahir di Mesir (W.175 H). Ia banyak melakukan diskusi dengan al Syafi’I dan Malik, secara keilmuan dapat dikatakan sebanding dengan kedua imam tersebut.
Madzab Daud al dhahiri, didirkan oleh Abu Sulaiman Dawud bin ‘Ali al Isfahani (200-270 H). Awalnya merupakan pengikut madzab Syafi’I, kemudian mendirikan madzab tersendiri. Ia lebih mengutakan bentuk-bentuk lahir naash al Qur’an dan al Sunnah dan menolak qiyas serta berbagai bentuk penggunaan ra’yu. Ada karya peninggalan madzab ini yang terkenal yakni kitab fiqih ‘ al Muhalla’ tulisan Ibn Hazm, salah seorang pengikut madzab Dhahiri.
Madzab Ibn Jarir al Thabari didirikan oleh Abu Ja’far bin Muhammad bin Jarir al Thabari ( w.310 H). Ia banyak belajar dari fiqih Syafi’I, Malik dan aliran Irak. Ia juga tergolong sebagai mujtahid mustaqil. Dan meninggalkan karya agung yang terkenal yakni kitab tafsir’ Jami’ al Bayan ‘an Tafsir Ai al Qur’an’ dan kitan sejarah yang terkenal dengan ‘ Tarikh Thabari.
Pasang surut madzab ini tidak terlepas dari metode pengembangan hukum yang dipilih oleh para Imam madzab. Secara individual para Imam tersebut mengembangkan metodologi madzabnya secara mandiri. Abu Hanifah terkenal dengan Qiyasnya, Imam Malik dengan madzab haditsnya, Imam syafi’I merupakan perpaduan keduanya, sementara Imam Ahmad bin Hanbal merupakan penjaga madzab hadits yang lebih murni dari pada Imam Malik.11. Miski tentu saja mereka tidaklah semata-mata berpegang pada hadits atau ra’yu dengan meninggalkan salah satunya.
Sementara kekuasaan lebih berpihak/peduli kepada aliran kalam ketimbang fiqih. Hal ini lebih disebabkan sikap para imam madzab terhadap penguasa dan kekuasaan yang menolak untuk duduk sebagai hakim atau ulama istana atau untuk diundangkan faham ( kitabnya). Di samping perlunya justifikasi/legitimasi keagamaan/teologis untuk kekuasaannya sebagai khalifah di bumi.Karena apapun, yang pasti bahwa saat itu segala sesuatunya haruslah mempunyai sandaran pembenar keagamaan, dan barangkali ini yang mendorong semangat untuk mempelajari dan mendiskusikan segala persoalan dari perpektif keagamaaan. Memang ada sebagian yang berkarya dalam lingkaran kekuasaan sebagai qadli atau ulama istana. Semisal Abu Yusuf, murid Abu Hanifah. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sebenarnya kekuasan kurang mempunyai andil dalam pengembangan fiqih bahkan seringkali menghambat atau mengkooptasi. Miski juga tidak menolak adanya sumbangan kekuasaaan secara tidak langsung dengan kondusifnya situasi saat itu karena dibuka seluas luasnya pintu seluruh keilmuan termasuk ilmu fiqh. Dan madzab fikih tidaklah merupakan madzab resmi pemerintahan ia lebih merupakan madzab yang berkembang di masyarakat.
Dari berbagai literatur sejarah sepanjang yang dapat dirujuk mengenai kemunculan madzab dapat dikatakan bahwa kemunculan madzab dilembagakan oleh pengikut-pengikutnya. Para Imam hanyalah merintis suatu metodologi pengambilan hukum tertentu yang dipilih kemudian diulas panjang lebar dan dikembangkan oleh murid-muridnya sehingga membentuk aliran pemikiran hukum tertentu ( madzab).
Di antara tetap lestarinya madzab adalah adanya dukungan dari pengikut serta semangat untuk mengajarkan kepada orang lain. Dukungan pengikut madzab ini mempunyai andil besar dalam pelestarian madzab terutama dalam perluasan metode istinbath hukum maupun penerapan kaedah-kaedahnya kepada cabang-cabang permasalahan yang banyak. Bahkan ketika terjadi persselisihan madzab yang sengit, maka pendukung –pendukung fanatik madzab inilah yang selalu menjaga tegak madzabnya sehingga menghasilakn hukum fiqh yang sangat memihak madzab dan mengesampingkan kebenaran. Semisal keharaman pria satu madzab menikahi wanita pengikut madzab lain.
Termasuk pula di antara yang menguatkan madzab adalah konsistensi pendiri madzab terhadap tekanan penguasa atau campur tangan penguasa yang karenanya para pengikut madzab lebih bersimpati terhadap madzabnya. Hal ini seperti yang terjadi pada imam Ahmad bin Hanbal.
Peran besar yang dimainkan oleh kemuncukan madzab ini sangat mendorong untuk pengembangan keilmuan khususnya masalah hukum. Dengan membentangkan berbagai teori hukum dan pengambilan hukum yang dikembangkan oleh pengikut madzab dari gurunya. Teori – teori hukum ini pada gilirannya disebut sebagi Ilm Ashul al Fiqh yang juga mengambil dua bentuk pengembangan yakni aliran Mutakallimin dan aliran ra’yu. Masing-masing aliran ini mengembangkan metode pengambilan hukum yang hingga sekarang masih menjadi rujukan.
Kemunculan madzab ini mampu demikian hebat mempengaruhi pola pikir dan peradaban Islam. Ia telah mampu sedemikian jauh membentuk peradaban Islami dan mendominasi kehidupan intelektualnya, yang bahkan bisa dikatakan berbenturan dengan pemikiran lainnya semacam kalam dan tasawuf.
Penutup
Demikianlah, bahwa kemunculan madzab tidak terlepas dari pengaruh kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Ia tidaklah lahir dari kekosongan sejarah. Dan sejauh ini ia telah dengan kokohnya mencengkeram dan menancapkan pengaruhnya pada pemikiran kaum muslimin umumnya dan telah mewarnai peradaban Islami dengan memfilter semua peradaban dari luar yang masuk sehingga menjadi peradaban tersendiri yang Islami.

Daftar Referensi.
Amin, Ahmad., Dhuha AL Islam. Juz 1,2 . Kairo: Maktabah Al Nahdhal Al Mishriyah. 1974.
Ahmad, Akbar S. Citra Muslim Tinjauan sejarah dan sosiologis. Jakarta: Erlangga.
Amin, Husayn Ahmad., Al Mi’ah Al A’dham fi Tarikh Al Islam ( Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, terj ). Bandung: Rosdakarya. 2001.
Al Wakil, Muhammad sayyid., Lamhatun min Tarikh Al Da’wah:Asbab Al Dhu’f Fi AL ummah AL Islamiyah ( Wajah Dunia Islam dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern. Terj ).Jakarta: Pustaka Al Kautsar. 1999.
Kholil, Moenawar., Biografi Empat Serangkai Imam Madzab. Bandung: Bulan Bintang. 1992.
Rosyada, Dede., Hukum Islam dan Pranata Sosial. Jakarta: Rajawali . 1993.
Syalabi, A., Al Tarikh Al Islami wa Al hadharah Al Islamiyah ( Sejarah dan kebudayaan Islam. Jil.2, 3, terj ) Jakarta: Pustaka Al Husna. 1993.
Watt, W. Montgomery.,The Formative Periode of Islamic Thought ( Studi Islam Klasik: Wacana Kritik Sejarah. Terj ). Yogyakarta: Tiara Wacana. 1999.
…………………………., The Majesty That Was Islam ( Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orintalis. Terj ). Yogyakarta: Tiara Wacana. 1990.
Zaidan, Abdul Karim., Al Madkhal lidarasah Al Syari’ah Al Islamiyah. Baghdad: Maktabah Al Quds. 1981.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s