BAB 1: Pendahuluan

BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
Glock dan Stark (Robertson, ed 1988:295) menyebutkan ada lima dimensi dalam agama, a) dimensi keyakinan, b) dimensi praktek, c) dimensi pengalaman, d) dimensi pengetahuan, e) dimensi konsekuensi. Dimensi praktek keberagamaan mencakup ritual yang bersifat publik dimana semua agama mengaharapkan pemeluknya untuk melaksanakannya, dan ketaatan untuk memelihara komitmen beragama yang bersifat individual yang merupakan tindakan persembahan yang dilaksanakan secara personal.
Berdasar pada perspektif diatas maka dimensi praktek keberagamaan dalam Islam baik ritual dan ketaatan dapat dijelaskan bahwa ritual mencakup apa yang ada dalam lima rukun Islam, yang ditambah dengan beberapa ibadah lain menyangkut siklus kehidupan dan perayaan-perayaan. Sedangkan ketaatan bisa berupa membaca kitab suci atau teks-teks keagamaan, ibadah-ibadah tambahan yang dimaksudkan untuk mencapai derajat kesalehan pribadi.
Bentuk ibadah tambahan itu misalnya: sedekah, memelihara anak yatim, pengajian-pengajian atau majlis taklim, dzikir dan segala yang berbau keagamaan untuk memelihara komitmen dengan nilai-nilai agama.
Sementara itu di sisi lain, antara aturan normatif ritual (beragama ) dengan praktek sehari-hari bisa memberikan gambaran contoh beragama yang beragam. Praktek sehari-hari yang berkembang dimasyarakat lebih kaya dan bervariatif dibanding aturan normatifnya. Realita, bahwa teks agama yang menjadi sandaran pelaksanaaan praktek beragama yakni wahyu , diturunkan dalam konteks tertentu, situasi historis dan bahasa serta budaya tertentu. Komunitas manusia yang menerima wahyu juga mengekspresikannya dan memahaminya dalam akar budaya tertentu. Seperti yang ditegaskan sendiri oleh al Qur’an ,misalnya dalam surat al Ahqâf: 12, al Syûra: 7, Ibrâhîm: 4, al Nahl: 103 dan al Syu`ârâ: 195.
Masyarakat Jawa, khususnya di masyarakat pesantren yang merupakan sebuah komunitas keagamaan yang homogen memiliki sumber resmi atau teks keagamaan yang lebih lengkap, yang dipraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, meskipun pesantren mengajarkan ilmu–ilmu agama, tetapi justru kehidupan keberagamaannya yang lebih penting, karena dapat memberikan pengalaman langsung mengenai praktek keberagamaan untuk mencapai derajat kesalehan, seperti diungkapkan oleh Karel A. Steenbrink (1986:x) bahwa kehidupan di pesantren, jika diperhatikan dan dialami untuk waktu lebih lama, akan memberikan sebuah pengalaman yang sangat menarik mengenai kehidupan dalam lingkungan khas Islam.
Kekhasan kehidupan pesantren, menurut Nurcholis Madjid (1997:37) dapat dilihat sebagai ekspresi keagamaan yang lebih bervariasi dan beragam dari umat Islam tradisional di Indonesia. Di samping ekspresi lewat ceramah lisan juga melalui nyanyian-nyanyian (seperti Barzanziy, Dziba`iy, Shalawatan,tahlîl), serta memakai tasbih, kehidupan mistis dalam pengajian kitab (seorang kiai secara konsisten mengaji kitab tertentu pada waktu tertentu sehingga menjadi semacam wajib bagi dirinya yang bila ditinggalkan dengan sengaja dianggap berdosa) (Madjid,1997:37). Lebih lanjut Steenbrink (1986:37) menambahkan bahwa pengaruh agama yang dihasilkan dari lingkungan yang khas, disiplin dalam menjaga shalat dan ibadah lain, dipandang lebih penting daripada pengajaran formal. Dengan kehidupan pesantren yang khas itu, santri diharapkan menjadi muslim yang baik, berakhlak karimah.
Teks-teks resmi di pesantren berasal dari abad pertengahan Islam yang disusun oleh ulama’-ulama’ Timur Tengah. Maka corak keberagamaanya juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran abad pertengahan yang oleh Zamakhsari Dhofier (1994: 1) disebut sebagai pesantren tradisional. Pada gilirannya akan memberikan corak praktek keberagamaan yang juga bersifat tradisonal.
Tidak dapat dipungkiri kemajuan jaman dan pengaruh informasi dan penyebaran berbagai paham agama dan paham budaya populer lainnya yang begitu mudah akibat globalisasi diduga telah memberikan pengaruh pada praktek keberagamaan bagi dunia pesantren yang tradisonalis itu. Globalisasi yang dimaknai sebagai sebuah proses yang saling mempengaruhi atau percepatan integrasi antar masyarakat-masyarakat dunia yang mempengaruhi berbagai segi kehidupan termasuk dalam beragama. Proses globalisasi ini didukung oleh korporasi media internasional yang dengan cepat mempengaruhi perilaku masyarakat. Globalisasi mengandung aspek westernisasi dan modernisasi.
Bila di masyarakat pesantren tradisional hal-hal berikut ini menjadi dominan dan sangat istimewa. Peran kiai sebagai orang suci begitu besar, ia memegang seluruh kendali dan kebijakan pesantren yang hampir-hampir tak terbantahkan. Peci hitam dan sarung dipandang sebagai salah satu sarana mencapai kesempurnaan melakukan shalat. Sumber terpercaya informasi agama berasal dari kitab kuning dan kiai. Pada era globalisasi nyata bahwa hal-hal ini menjadi relatif, misalnya, seseorang tidak sekedar menutup aurat tetapi modis juga dipandang penting. Informasi agama bisa juga diperoleh dari tampilan dan ceramah agama yang dilihat dan diakses lewat VCD dan internet atau buku-buku yang begitu mudah didapat dan tidak terbatas pada tulisan Arab. Kiai lebih dimaknai sebagai sebuah profesi, jabatan dan simbol pesantren yang diharapkan dapat memelihara tradisi keberagamaan pesantren. Tetapi ia tidak tumbuh dari bawah namun diangkat dan diberhentikan dari jabatan dewan kiai dengan surat keputusan.
Beberapa praktek keberagamaan tradisional yang masih dipertahankan seperti hapalan (tahfîdz), minimal juz’ `amma masih dipertahankan, begitu juga hapalan beberapa hadits dan do’a-do’a praktis masih dipertahankan. Model pengajian juga masih berlanjut. Untuk shalat tertentu masih ada semacam kewajiban mengenakan sarung dan juga mukena. Tetapi lebih dimaknai sebagai menjaga tradisi dan memenuhi syarat formal pesantren daripada unsur sakralnya.
Kesenian di pesantren tradisional atau salaf, terbatas pada dzibaan dan bazjanzi yang dianggap sebagai kesenian Islam, ditambah dengan nazaman maka sekarang ada nasyîd, dan acapela, dan penggunaan alat-alat kontemporer. Bila sumber resmi agama yang diakui adalah kitab kuning atau yang ditulis dengan bahasa Arab, maka pesantren sekarang cukup memakai terjemahan. Meskipun pesantren masih mempertahankan tradisi baca kitab, namun hal tersebut semata sebagai tradisi dan tidak ada dimensi sakralitas yang menonjol disana, maka perlakuan terhadap kitab kuning adalah sebagaimana perlakuan terhadap buku pegangan pelajaran lainnya, seperti fisika, dan ekonomi. Tetapi sumber pengetahuan agama bisa diperoleh dari terjemahan dan diakui kesahihannya.
Berlandaskan pada latar belakang pemikiran seperti diuraikan diatas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai praktek-praktek keberagamaan yang ada saat ini dalam konteks globalisasi dengan mengambil studi kasus di pesantren Assalaam.
Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, begitu nama resminya, selanjutnya di sebut PPMI Assalaam, merupakan proses panjang pelembagaan kegiatan keagamaan dalam bidang pendidikan yang dikembangkan oleh pasangan suami istri Abdullah Marzuki (direktur penerbit Tiga Serangkai) dan Siti Aminah. Kegiatan keagamaan ini dinamakan Mejelis Pengajian Islam. Untuk lebih dapat mengembangkan MPI secara intensif, ia bersama istrinya mengajak rekan-rekan pengurus MPI membentuk yayasan. Maka pada tanggal 13 september 1979 berdirilah Yayasan Majelis Pengajian Islam. Yang selanjutnya mendirikan PPMI Assalaam pada tanggal 7 Agustus 1982. (Arifin dan Asrowi, 1994: 25-32)
Penulis memilih Pondok Pesantren Assalaam sebagai lokasi penelitian mengingat beberapa hal antara lain adalah ciri modern yang diklaimnya yang tercermin dari namanya yakni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, dan letaknya di dekat kota Surakarta serta berdekatan dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi dan menengah. Dinamika internal pesantren menyangkut manajemen pesantren dalam usaha mendefinisakan ulang posisinya dalam dunia modern dan global. Disamping kenyataan santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang berasal dari lapisan sosial menengah atas,seperti nampak dari jumlah mobil wali santri yang berkunjung pada hari libur. Jumlah santri saat ini sekitar 1700 santri. Dari sisi gaung yang dimilikinya terbukti banyaknya pejabat tingkat nasional yang pernah berkunjung ke PPMI Assalaam bahkan duta besar Australia juga pernah tercatat melakukan kunjungan ke PPMI Assalaam pada tanggal 26 Oktober 2003, juga kunjungan beberapa anggota parlemen Australia pada bulan Desember 2003. Sementara itu PPMI Assalaam dirancang sebagai sebuah pesantren yang menggabungkan sistem pesantren tradisonal dengan sistem pendidikan modern yang ditunjang dengan sarana prasarana pengajaran dan fasilitas lain yang modern
Penelitian yang dilakukan penulis adalah melihat pesantren PPMI Assalaam lewat pendekatan sosiologis untuk mencari makna baru praktek keberagamaan terkait dengan perubahan sosial karena pengaruh globalisasi.
B. Perumusan Masalah
Di muka telah dijabarkan beberapa hal pokok seperti praktek keagamaan, pesantren (Assalaam) serta globalisasi. Adapun rumusan permasalahan yang hendak diajukan adalah mendeskripsikan bagaimana praktek keagamaan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh komunitas pesantren PPMI Assalaam di era global ini. Kemudian rumusan ini dirinci menjadi beberapa pertanyaan, diantaranya adalah:
1.Bagaimana PPMI Assalaam menjalankan praktek keagamaannya pada era globalisasi ini ?
2.Bagaimanakah PPMI Asssalaam memaknai dimensi praktek keagamaannya ?
3.Bagaimana hal-hal yang sakral kaitannya dengan praktek keagamaan dipandang dan dijalani ?
4.Bagaimanakah praktek keagamaan tradisional dijalankan, dan bentuk praktek keberagamaan baru apa yang muncul ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Penelitian ini bertujuan ingin mendeskripsikan praktek keagamaan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh komunitas pesantren di era global.
1. Ingin mengetahui bagaimana PPMI Assalaam menjalankan praktek keagamaan di era globalisasi ini.
2. Ingin mengetahui bagaimana PPMI Assalaam memaknai praktek keagamaannya.
3. Ingin mengetahui hal-hal yang dianggap sakral dimaknai dan dijalani oleh PPMI Assalaam.
4. Ingin mengetahui bentuk-bentuk praktek kegamaan tradisional yang dijaga ketat untuk dilaksanakan dan bentuk baru apa yang muncul.
2. Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian ini secara akademik diharapkan dapat memberikan kontribusi pengembangan ilmu pengetahuan dalam penelitian agama, dan secara praktis dapat dipergunakan menjadi acuan dalam melihat praktek keagamaan di era global.
D. Kajian Pustaka
Beberapa penelitian mengenai pesantren seperti Zamakhsyari Dhofier (1994) terhadap dua pesantren di Salatiga dan Jombang mendasarkan pada pendekatan sosiologis antropologis, dengan titik tekan pada pandangan hidup kiai dari aspek pendidikan.
Manfred Zimek (1986), membuat penelitian pesantren pada peran atau fungsi yang dimainkannya dalam kontek perubahan sosial yang mengitari kehidupan pesantren dengan mencoba menawarkan hal-hal yang memang menjadi kebutuhan masyarakat. Mastuhu (1994) mengetengahkan pesantren pada permasalah pendidikan.
MT Arifin dan Asrowi (1994) meneliti PPMI Assalaam sebagai alternatif pesantren dari yang selama ini telah ada, dengan mengetengahkan bentuk pesantren perkotaan.
Penelitian Purnama Syaepurrohman (2003) di PPMI Assalaam. Ia meneliti tentang kehidupan keseharian santri yang dilandasi oleh ajaran agama sehingga memunculkan suatu sistem nilai sosial tersendiri yang menjadi pedoman perilaku di PPMI Assalaam.
E. Sistematika Tesis
Penyajian penelitian yang dikedepankan adalah dengan membuat bab-bab yang membahas persoalan penelitian sesuai temanya masing-masing dengan menjaga keruntutan kajian. Ada lima bab yang disajikan.
Bab satu berbicara mengenai pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, manfaat dan tujuan penulisan, dan sistematika pembahasan.
Bab dua menyajikan kajian teori mengenai seluk beluk dunia pesantren, agama dalam perpektif sosiologis dan aspek-aspek yang terkait dengan agama, dan globalisasi.
Bab tiga menguraikan metodologi penelitian yang dipergunakan, meliputi jenis penelitian, pendekatan, sumber data, pengumpulan data, analisa data
Bab empat berisi sajian temuan data dan analisisnya. Pada bab ini akan dikemukakan gambaran umum dan gambaran khusus pesantren Assalaam. Gambaran umum bicara tentang lingkungan luar dan lingkungan dalam pondok, Sementara dalam gambaran khusus pesantren akan dikemukakan mengenai pengertian pesantren yang berkembang di lingkungan PPMI Assalaam, tujuannya, pengelola dan masyarakat dalam pesantren, pola pengajaran, praktek keberagamaan yang ada di dalamnya.
Bab lima merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran .

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Tesis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s