Bab II: Kajian Teori Sosial Keberagaman dan Globalisasi

BAB II
KAJIAN TEORI

Bab ini akan menguraikan beberapa hal yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini. Meliputi seluk beluk agama, pesantren beserta karakteristiknya dan makna globalisasi.
A. Agama
1. Pengertian
Lester R. Kurzt mengutip pendapat Durkheim, menyatakan bahwa agama merupakan kesatuan sistem kepercayaan dan praktek yang berkaitan dengan sesuatu yang suci yang diyakini dan dilaksanakan oleh masyarakat yang terikat bersama .( Kurtz:2001:9). Beberapa ahli melihat agama dari sudut substansinya, yang mirip sebagai pendekatan rasa kebersamaan dengan menekankan pada isi atau ide, dimana dengan ini suatu masyarakat memiliki komitmen bersama atau menemukan sesuatu yang dirasa penting bagi mereka. Ada pula yang melihat agama dari sisi fungsinya, bagaimana agama berperan dalam kehidupan manusia. Apa yang dimainkan agama bagi kehidupan pribadi maupun kelompok masyarakat. (Pals:1996:12)
Agama mengandung beberapa elemen, salah satunya dalam hal ini adalah adanya masyarakat atau organisasi sosial dari masyarakat di mana mereka ditarik bersama ke dalam suatu tradisi keagamaan (Kurtz:1995:9). Dalam agama juga dapat ditemukan elemen sistem kepercayaan, praktek keagamaan (ritual yang mencakup perayaan keagamaan, rites of passages; kelahiran, pernikahan dan kematian), sakral (suci).
2. Dimensi Agama
Lebih jelasnya adalah bahwa hampir semua agama, menurut E.Theodore Mullen,Jr, ( http://www.php.iupui.edu/~mullen/relintro.htm ) memiliki sejumlah karakteristik yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1) berkaitan dengan kepercayaan (system of beliefs ) yang menentukan bagaimana seseorang memandang dunia di sekitarnya. 2) berkaitan dengan praktek atau perilaku (religious practices). Ada tiga dimensi agama yang berkaitan dengan kepercayaan ini: doktrin, etik, dan mitos. Doktrin lebih merupakan formulasi sistematis dari kepercayaan esensi/pokok dan susunan agama. Ia mengandung penjelasan mengenai kepercayaan suatu agama. Doktrin ini juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan dan kontradiksi yang terjadi dalam kepercayaan. Contohnya adalah kredo, teologi, dan aturan-aturan penafsiran ajaran agama.
Karena agama melibatkan kepercayaan itu maka ia juga mempengaruhi cara bagaimana seseorang berperilaku. Dalam agama seseorang diwajibkan mengikuti berbagai aturan tertentu dan tindakan yang teratur. Dimensi etik agama merujuk pada sedikit atau beberapa aturan sistematis dari seperangkat kepercayaan moral dan petunjuk tingkah laku yang menunjukkan pada moral ideal pribadi dan masyarakat. Kepercayaan ini mengindikasikan mana tindakan yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Contoh dari etik ini adalah sepuluh perintah (the ten commandments), syarî`ah.
Adapun mitologi, mencakup kepercayaan yang, biasanya tapi tidak selalu, diekspresikan dalam bentuk cerita mengenai yang awal dan akhir, dewa-dewa, kepahlawanan, waktu-waktu khusus, tempat-tempat dan kejadian-peristiwa sejarah. Contoh mitos adalah cerita penciptaan, cerita Zeus, Musa, Yesus dan Muhammad. Semua cerita ini mengandung elemen yang mengekspresikan sesuatu mengenai hubungan antara dunia eksistensi manusia dan Yang Maha.
Berkaitan dengan dimensi-dimensi yang menekankan pada kepercayaan ini adalah apa yang berkenaan dengan praktek-praktek keagamaan. Agama merupakan suatu bentuk aktifitas manusia. Sistem kepercayaan keagamaan langsung berhubungan dengan cara bagaimana seseorang beraktivitas. Karenanya, dimensi pengalaman keagamaan menjadi sangat penting artinya. Ini adalah dimensi agama dalam mana kehadiran atau kekuatan ketuhanan dipersepsi sebagai pengalaman langsung. Beberapa pengalaman bisa jadi langsung atau sebagai hasil refleksi sepanjang waktu. Pengalaman keagamaan bisa juga menjadi sangat berkekuatan, mentransformasikan kehidupan manusia secara permanen. Seringkali beberapa pengalaman bisa dikatakan menjadi “mistikal” atau”inspirasi”. Contoh dimensi ini adalah pencerahan Budha, merasa diijabahi do’a, atau persepsi kemunculan Bunda Maria.
Sering, beberapa aspek tertentu dimensi pengalaman ini distandarkan dalam suatu tradisi dan mengambil bentuk karakter/sifat simbolis. Seperti beberapa perilaku simbolis yang bertujuan melakukan kembali, merayakan, transformasi, atau memantapkan komunikasi dengan Ketuhanan yang biasa disebut ritual.
Dimensi ritual keagamaan bertujuan memperingati kesempatan waktu waktu terpilih dan tertentu atau untuk membangkitkan persepsi keberadaan yang sakral (sacred). Seringkali juga ritual ini dimaksudkan untuk menandai perubahan atau transisi kehidupan dari satu keadaan kekeadaan lain, seperti masa akil balig atau pernikahan. Karena beberapa aksi ini, dalam term simbolis, dapat membawa kepada suatu kehadiran ketuhanan dan memungkinkan kontak antara manusia dengan Yang Maha. Mereka membentuk suatu elemen esensi dalam aspek tingkah laku dan sosial tradisi keagamaan.
Sedangkan dimensi sosial atau lembaga/institusi agama merujuk pada cara dan bentuk dalam mana suatu tradisi agama diorganisasikan dan menegakkan dirinya. Cara bagaimana suatu tradisi mengorganisasikan ajaran-ajarannya dan mentransmisikan sistem kepercayaannya membutuhkan beberapa bentuk struktur terorganisasi untuk menjamin tegaknya ajaran suatu agama. Pada umumnya , tatanan atau institusi akan disusun setelah tatanan sosialnya eksis, bahkan dimodifikasi agar dapat memenuhi kebutuhan kelompok. Tradisi keagamaan juga butuh untuk memantapkan garis-garis kewenangan dan menyediakan kontinuitas dalam kepemimpinan bilamana mereka menginginkan kelestarian sepanjang zaman. Beberapa peraturan juga dibangun berdasar model yang pernah ada sebelumnya. Demikian Mullen. (www.php.iupui.edu/~mullen/relintro.htm)
Bentuk dimensi lembaga agama bisa beragam, dalam agama Kristen ada gereja, agama budha dikenal adanya kuil dengan biksunya, dalam Islam,khususnya di Indonesia, terdapat pesantren. Kajian tentang pesantren lebih lanjut dapat dilihat pada uraian selanjutnya.
Uraian mengenai dimensi agama ini akan semakin lengkap dengan mengutip pendapat Glock dan Stark (Robertson,ed.: 1988:295-297), bahwa ada lima dimensi dalam agama yaitu: keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi-konsekuensi.
1. Dimensi keyakinan. Dimensi ini berisikan pengharapan-pengharapan di mana orang yang relegius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu, mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi diantara berbagai agama dan juga dalam tradisi-tradisi dalam agama yang sama.
2. Dimensi praktek agama mencakup perilaku pemujaan,pelaksanaan ritus formal keagamaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen keagamaan. Praktek-praktek keagamaan ini terdiri dari dua hal penting: Pertama ritual mengacu kepada seperangkat, ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci atau sakral yang semua agama mengharapkan para penganutnya melaksanakan.aspek ritual ini sangat formal dan khas publik. Dari sisi tujuan, ada ritual yang tujuannya menuju kesalehan (pietisme), ada yang melakukan ritual semata-mata karena memang merupakan kewajiban dari Tuhan (formalisme), ada pula yang menjadikan aturan-aturan dalam ritual sebagai yang utama, bukan Tuhan maupun kesalehan, melaksanakan ritual karena rituak itu sendiri (ritualisme), sedangkan yang lebih mengutamakan keindahan dan kesempurnaan sarana dan prosesi ritual adalah kelompok aisthethikos. Kelompok ekipisme, menjadikan ritual sebagai pelarian dari beban hidup yang menghimpit. Dan disebut usaha magik manakala ritual itu dimaksudkan untuk mencari pamrih (Suprayogo dan Tobroni, 2001:23). Kedua ketaatan merupakan tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relatif spontan, informal, dan khas pribadi.
3. Dimensi pengalaman berkenaan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensai yang dialami seseorang atau sekelompok orang ketika berkomunikasi dengan zat yang maha agung.
4. Dimensi pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu pada harapan bahwa orang bergama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan tentang dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci, dan tradisi-tradisi.
5. Dimensi konsekuensi adalah identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktek, pengalaman dan pengetahuan keagamaan seseorang dari hari ke hari. Sebagaimana diketahui bahwa agama banyak menggariskan kepada pemeluknya bagaimana seharusnya berpikir dan bertindak, namun tidak begitu jelas batas mana suatu konsekuensi agama merupakan bagian atau murni dari agama.
Jalaluddin Rakhmat (Abdullah dan M. Rusli Karim: 1989: 93) menyebut dimensi keyakinan dan pengetahuan sebagai aspek kognitif keberagamaan, dimensi ritual dan konsekuensi sebagai aspek behavioral keberagamaan dan dimensi eksperensial atau pengalaman sebagai aspek afektif keberagamaan. Dimensi pengalaman keberagamaan bergerak dalam empat tingkat: konfirmatif (merasakan kehadiran Tuhan atau apa saja yang diamatinya), responsif (merasa bahwa Tuhan menjawab kehendak atau keluhannya), eskatik ( merasakan hubungan yang penuh akrab dan penuh cinta kasih dengan Tuhan), partisipatif (merasa menjadi kawan setia, kekasih atau wali Tuhan dan menyertai Tuhan dalam melakukan karya Ilahiyah).
Sedangkan dimensi konsekuensi misalnya keterkaitan antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosialnya, atau dengan perilaku politiknya. (Suprayogo, 2001:21-22).
Sebagai contoh studi agama ini adalah apa yang oleh pengkaji agama menyebut sacred space dan sacred time, dalam pengalaman kehidupan manusia tidak semua ruang dan waktu itu memiliki makna yang sama. Dalam setahun saja manusia membedakan beberapa waktu khusus, semacam waktu kelahiran, perayaan dan lainnya ( baik yang berkaitan dengan keagamaan maupun tidak). Konsep sacred dan profan ini dapat menjelaskan, misalnya studi mengenai materi kitab al Qur’an, waktu yang yang dianggap mustajab, simbol ritual, masjid, gereja, sinagog mengapa tempat ini menjadi begitu khusus, bagaimana tatanan atau strukturnya memisahkan diri dari dunia umumnya? Bagaimana hal-hal itu dapat menyimbolkan dunia realita lain.
Lewat ritual tertentu barang atau benda biasa dan dan tempat biasa bisa ditrasformasikan menjadi sakral. Roti dan anggur dalam tradisi kristen, atau kurma/buah manis dalam tradisi buka puasa, pergi haji, bagaimana benda dan tempat tersebut diidentifikasi sebagai tempat sakral. Bersedekap, atau menundukkan kepala bisa pula dimaknai sebagai sakral.
Ada yang perlu ditambahkan di sini terkait dengan praktik ritual, yakni mengenai seremonial. Suatu ritual memiliki dimensi seremonial atau sebaliknya seremonial seringkali juga memiliki dimensi ritual. Seremonial lebih menekankan pada sisi pengaruh budaya lokal, tidak terkait langsung dengan yang transenden, bersifat tambahan dari yang normatif/murni ritual. Karenanya perlu diingat pula bahwa konsep seremonial seringkali dipergunakan untuk menyebut seperangkat kegiatan yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang dianggap spektakuler, atau masa-masa yang dianggap agung (http://www.wizardrealm.com/Galadriel/ritual.html). Seremonial lebih merupakan seperangkat tindakan yang ditentukan dan dikaitkan dengan praktik ritual (http://www.bartleby.com/62/49/C0234900
.html) . Yang menjadi kesulitan adalah barangkali membedakan mana sisi ritual murni dan sisi seremonialnya. Tapi dengan meminjam “pengetahuan lokal” dari Geertz akan ditemukan sisi seremonial dan ritualnya. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang makna yang diberikan oleh orang yang mengerjakannya.
Sebagai contoh dalam ritual menyambut kelahiran bayi, mulai perawatan ari-ari bayi dengan segala variasinya, penamaan dan pencukuran rambut di hari ketujuh bayi juga dengan segala variasinya, penyembelihan kambing di hari ketujuh bayi hingga pendistribusian daging kambing, semua ini bila dilihat dengan memakai konsep seremonial dan ritual, maka akan bisa dilihat mana yang murni ritual dan seremonial. Penyembelihan kambing yang memiliki kriteria tertentu yang dimaksudkan untuk melaksanakan ajaran Allah, bisa disebut sebagai ritual, tapi teknis penyembelihan yang dilakukan dan pembagian daging merupakan sisi seremonial.
Contoh lain, dalam ritual pernikahan, yang merupakan unsur ritual adalah ikrar îjâb qabûl selebihnya merupakan seremonial semata yang berdasar pada pertimbangan kepatutan dan kepantasan hidup bermasyarakat. Detail dari ritual pernikahan ini, misalnya pilihan bahasa yang digunakan dalam ikrar îjâb qabûl, pakaian yang dikenakan saat îjâb qabûl, hadirin dan saksi yang diundang, tempat yang digunakan, fasilitas atau perangkat, dekorasi yang khas Jawa, pemilihan mahar, dan seterusnya bisa disebut sebagai unsur seremonial.
Seremonial inagurasi dan wisuda, bisa jadi di dalamnya banyak dimasukkan simbol-simbol ritual dari akhir acara hingga akhir acara. Misalnya acara pembacaan kalam Ilahi, harapan kelancaran acara, hingga pembacaan do’a.
Pendekatan normatif atau fiqih terhadap praktek seremonial bisa menjadi ajang perdebatan terkait dengan apa yang disebut dengan bid`ah. Hanya saja dalam studi sosiologi-antroplogi hal tersebut tidaklah menjadi perhatian serius, karena sosiologi memusatkan perhatiannya pada bagaimana agama dan masyarakat saling mempengaruhi, bagaimana agama dipraktekkan, bagaimana makna agama bagi suatu masyarakat, bagaimana perilaku pemeluk suatu agama tertentu, terlepas dari apakah tindakan tersebut sesuai atau tidak benar atau salah dalam perspektif normatif ajaran agama.
Tulisan ini tidak akan mengetengahkan semua sisi seremonial dari ritual Islam, tapi dari sedikit paparan di atas kiranya sudah cukup menggambarkan sisi seremonial dalam suatu ritual tertentu. Karena penelitian ini lebih menekankan pada deskripsi apa adanya dari praktek keagamaan yang ada di PPMI Assalaam sehingga bisa dilihat makna praktek keagamaan tersebut bagi pelakunya yakni PPMI Assalaam. Dan inilah sesungguhnya maksud dari penelitian ini. Sekali lagi seremonial lebih dimasukkan sebagai detail atau bagian dari ritual yang tidak terkait secara langsung dengan yang transenden, tapi ia secara umum diletakkan dalam kerangka ritual yang transenden sehingga seremonial tersebut sedikit banyak terinspirasi atau diberikan kepadanya makna transendensi, dan tidak serta merta terlepas dari nilai transendensi. Hanya cakupannya memang tidak seketat ritual yang memang secara langsung dikaitkan dengan yang transenden.
3. Dimensi Praktek Keberagamaan dalam Islam
Sebagaimana diungkap di muka, dimensi praktek merupakan dimensi ritual yang ada dalam agama. Ritual Islam, menurut Frederick M. Denny (Martin, 2001: 86) adalah ekspresi doktrin Islam, tetapi bukan berarti bahwa yang terakhir baik secara logika maupun kronologis lebih dulu dari yang pertama. Keduanya saling menguatkan dalam proses penemuan dan disiplin agama yang menyatu.
Masalahnya ketika mengkaji praktek keberagamaan, kita dihadapkan pada persoalan sumber-sumber resmi tentang ritual Islam dan praktek yang berkembang dimasyarakat yang barangkali lebih kaya dan bervariatif dibanding dengan yang tercantum di sumber resmi. Barangkali inipun menyisakan pertanyaan apa yang bisa diterima sebagai sumber resmi ini, kitab fiqih dan kitab hadits, bahkan di antara kedua jenis kitab ini, bisa jadi menyajikan informasi yang sangat beragam mengenai ritual yang harus dilaksanakan. (Martin, 2001: 87).
Kitab-kitab fiqih selalu memulai penjelasan-penjelasannya dengan kewajiban-kewajiban ritual dengan memperhatikan lima rukun Islam syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Hanya rukun pertama, syahadat yang dilewatkan. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebuah kitab fiqih karya al Sayyid Sâbiq (1983:463), yakni Fiqh al Sunnah pada jilid pertama dari tiga jilid, ia menguraikan kewajiban-kewajiban ritual dalam beberapa bab dimulai dari bersuci (tahârah), shalat mencakup shalat lima waktu, shalat sunat, shalat jum’at dan shalat ` îd serta masjid. Kemudian bab zakat serta puasa dilanjutkan bab I`tikâf dan haji serta umrah.
Berdasar pada penjelasan di atas dimensi praktek keberagamaan dalam Islam bisa berupa shalat, puasa, haji, do’a, wirid, pembacaan ayat suci al Qur’an, perkawinan, dan khitan. Selanjutnya untuk memudahkan penelusuran kajian teoritis mengenai aspek ritual Islam berikut ini di berikan beberapa poin penting yang terkait dengan ritual Islam. 1) teks dan cerita suci meliputi al Qur’an dan Hadits, 2) syarî`ah yang mencakup tahârah, shalat, zakat, puasa dan haji. 3) pengaturan ruang dan waktu beribadah mencakup sistem Penanggalan, sistem ibadah sepanjang tahun yakni shalat harian lima waktu , ibadah mingguan, ibadah tahunan, tempat ibadah. 4) praktek keberagamaan yang berkaitan dengan siklus kehidupan yakni kelahiran, `aqîqah dan penamaan bayi, masa akil baligh, perkawinan dan kematian. 5) ketaatan untuk menjaga komitmen keberagamaan seperti wirid, do’a, dzikir, membaca al Qur’an, berqurban, kegiatan majlis taklim, kajian kitab, berpakaian dan peringatan hari besar Islam.
Secara agak rinci mengenai doktrin praktek keberagamaan dalam Islam seperti disebutkan di atas, dapat diuraikan sebagai berikut:
Dasar praktek keberagamaan Islam adalah rukun Islam yang lima. Ini merupakan tanggung jawab pengabdian setiap muslim. Kelima rukun Islam tersebut adalah: 1) Syahadat: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Syahadat merupakan pusat inti dari seluruh aktivitas agama Islam. 2) Shalat: sebuah ritual atau ibadah tertentu kepada Allah yang diawali dengan takbîr diakhiri dengan salâm, dilaksanakan dengan gerakan dan bacaaan tertentu, dikerjakan lima kali sehari semalam, menghadapa kiblat, Ka’bah di Mekah. 3) Zakat: ibadah yang berkaitan harta tertentu dari orang yang mampu untuk disalurkan kepada golongan tertentu, berkisar antara 2,5 % hingga 10 % dari penghasilan seseorang yang telah memenuhi kewajiban berzakat. 4) Shaum: ibadah puasa selama bulan Ramadhan, bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (muslim). Puasa dilaksanakan semenjak fajar hingga tenggelam matahari dengan menahan makan minum, hubungan seksual juga melakukan “puasa” pikiran, perilaku. 5) Haji: paling tidak dilaksanakan sekali seumur hidup bagi yang mampu melaksanakan, secara ekonomi. Haji merupakan suatu bentuk ibadah ziarah ke Masjidil Haram di Mekah selama bulan Dzû al hijah (dua bulan setelah Ramadhan).
Disamping kelima rukun Islam tersebut di atas masih ada beberapa bentuk ritual lain, yang dapat dimasukkan dalam kategori bentuk tambahan yang menunjukkan ketaatan dan untuk lebih memelihara komitmen keagamaan. Seperti : sumpah, nadzar, shalat sunnah, puasa sunnah, berkorban, membaca al Qur’an, bersedekah, peringatan hari besar Islam dan peringatan siklus kehidupan.
Barangkali pula dapat ditambahkan disini mengenai beberapa hal yang terkait dengan ritual atau ibadah ini yakni menyangkut benda, tempat/ruang, waktu maupun gerakan dan ucapan yang memiliki kaitan dengan ibadah. Ketika seseorang shalat secara agama ia disyaratkan mengenakan pakaian yang menutup bagain tertentu badannya yang dinamakan aurat dan suci jasmani rohani dari najis dan hadats. Secara khusus shalat dilakukan di masjid, tapi boleh juga dilakukan di luar masjid dengan syarat bahwa tempat shalat itu diyakini suci dari najis. Shalat juga dikerjakan dalam waktu-waktu tertentu, utamanya dimulai sejak terbit fajar, setelah tengah hari, sore hari, senja hari dan malam hari. Begitu pula dalam shalat harus dengan gerakan-gerakan tertentu dan ucapan-ucapan tertentu yang kesemuanya sudah ditentukan oleh aturan agama dalam hal ini dirumuskan dalam aturan fiqih.
4. Praktek Keberagamaan Tradisional
Detail aturan ritual yang tercantum dalam kitab-kitab fiqih Islam, dan dipertahankan secara kontinu dari waktu ke waktu yang diwariskan antar generasi untuk terus dijaga, adalah merupakan bentuk praktek keberagamaan tradisional. Dunia pesantren adalah dunia tradisional Islam yang mewarisi dan memelihara kontinuitas tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa. Dunia pesantren menyebut dirinya sebagai “pesantren salafiyah” dalam pengertian tradisional yang berbeda dengan pengertian umum mengenai salaf, yakni sebagai generasi awal para sahabat Rasulullah dan para tabi’in. Sebagai pesantren tradisional ia banyak memiliki berbagai bentuk praktek dan warisan keberagamaan Islam utamanya dalam bidang fiqih dan tasawuf. (Azra dalam pengantar Nurcholis Madjid, 1997: 16).
Dhofier (1994:1) mendefinisikan Islam tradisional sebagai Islam yang masih terikat kuat dengan pikiran-pikiran para “ulama” ahli fiqih, hadits, tafsir, tauhid dan tasawuf yang hidup antara abad ke 7 sampai ke 13. Dalam kaitan ini barangkali pengelompokan pesantren menjadi pesantren salaf dan pesantren khalaf didasarkan pada sistem pendidikan yang dikembangkan dalam kerangka pengajaran ilmu-ilmu tersebut di atas dan referensi kitab-kitab yang diajarkan di pesantren.
Seiring dengan berjalannya sejarah, pesantren salaf menghadapi tantangan perubahan sosial akaibat modernisasi dan tantangan paham baru/ modern Islam. Pesantren tradisional seringkali menjadi sasaran kritik kaum modernis Islam. Karena praktek keberagamaan yang dikembangkannya merupakan warisan perjalanan sejarah yang bercampur dengan bid’ah dan khurafat. Tanpa melakukan kajian kritis terhadap praktek keberagamaan yang dijalani maupun yang kitab yang dikajinya.
Dimuka disebutkan bahwa pesantren merupakan dimensi sosial/lembaga agama khususnya dalam Islam, selanjutnya bahasan tentang pesantren disajikan berikut.
B. Karakteristik Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam di Indonesia yang disebut oleh Nurcholis Madjid sebagai indegeneous/asli Indonesia. Ia sesungguhnya tidak tumbuh dari tradisi sistem pendidikan Islam klasik, justru ditumbuhkan dari tradisi Hindu Budha. Sebagaimana dinyatakan oleh Geertz bahwa pesantren tumbuh dari biara buddhist dari abad-abad pertengahan Jawa. Pesantren merupakan asrama siswa yang memusat pada masjid, pada umumnya terletak di tepi suatu desa/kampung, seorang guru agama, biasanya disebut kiyai, dan sejumlah muda siswa-santri- yang mempelajari al Qur’an, serta olah kebatinan (spiritual). (Geerzt dalam Robert N. Bellah.ed, 1965: 98). Sesungguhnya tekanan pengajarannya berbeda antara satu pesantren dengan lainnya tergantung spisifikasi pesantren tersebut.
Mastuhu (1994:55) juga menandaskan bahwa pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku hidup sehari-hari. Manfred Ziemek (1986: 104 -107) memberikan lima jenis pesantren berdasar tingkat keragaman unsur atau komponen pesantren. Mulai dari bentuk paling sederhana, yakni pesantren yang hanya memiliki unsur masjid tempat kiyai mengajar dan rumah kiyai yang juga difungsikan tempat menampung santri, hingga pesantren modern, yakni pesantren yang memiliki cakupan pendidikan Islam klasik hingga penyelengaraan sekolah formal dan universitas. Atau menurut Zamakhsyari Dhofier (1994: 41) disebut sebagai pesantren salaf dan pesantren khalaf. Tapi pada umumnya sebuah pesantren memiliki lima unsur atau elemen pokok yakni masjid, pondokan/asrama, kiyai, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik.
1. Unsur- Unsur Pesantren
Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, ia mempunyai sejumlah unsur yang membedakan dengan sistem pendidikan pada umumnya atau non pesantren.
Pertama, sebagai lembaga pendidikan Islam ia memiliki masjid yang pada umumnya dibangun di tengah pesantren. Masjid, selain sebagai tempat ibadah melaksanakan shalat juga dipergunakan sebagai tempat mengajar ilmu-ilmu Islam. Para santri sendiri yang memelihara masjid, menyediakan air wudlu untuk keperluan orang bersuci. Kadangkala pelangaran terhadap pearturan pesantren dihukum dengan mengisi kolah masjid. Bangunan masjid umumnya memiliki ruang tengah yang lebar, bagain depan dipergunakan untuk laki-laki dan bagian belakang dipergunakan untuk wanita dalam beribadah. Masjid memiliki mihrab di sisi depan tempat kiyai mengimami shalat dan tempat mimbar khutbah. Seringkali masjid dilengkapi pengeras suara untuk mengumadangkan adzan, panggilan shalat yang diletakkan di menara. Untuk alas lantai dipergunakan tikar atau permadani, karpet juga sajadah. Masjid yang bagus seringkali tanpa alas apapun.
Kedua, ia juga memiliki pondokan atau asrama tempat santri tinggal. Bentuknya merupakan rumah-rumah petak yang dibangun para santri sendiri di atas tanah pesantren, di pondokan ini para santri menyimpan miliknya selama di pesantren. Pondokan ini dilengkapi dengan almari kecil dan tikar sebagai alas tidur. Dalam perkembangannya pondokan dibangun oleh pesantren berbentuk asrama yang tiap kamar dihuni sekitar duapuluh santri, yang secara fisik memenuhi syarat layak huni, dilengkapi dengan penerangan listrik, ventilasi dan almari serta kasur busa sebagai alas tidur. Secara teratur dibersihkan dan dicat sehingga tetap terjaga kebersihannya.
Ketiga, kiyai merupakan gelar pemujaan dan pengakuan yang diberikan masyarakat karena pengabdiannya pada Allah lewat pendidikan dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Kiyai dengan mengutip Ziemek (: 131):
…adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren, yang sebagai muslim “terpelajar” telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan memperdalam ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan…

Kiyai dalam khasanah Jawa mencirikan seseorang dan juga benda yang memiliki sifat istimewa sehingga dihormati. Kiyai juga berarti laki-laki yang berusia lanjut, arif bijaksana sebagai pemimpin ia memiliki wibawa karismatik yang hidup sederhana. Ia juga merupakan pusat segala kendali pesantren. Meskipunpun demikian dalam menjalankan pesantren dibantu beberapa santri senior. Para kiyai dengan kelebihan dalam pengetahuan keagamaan sering dilihat sebagai orang yang mengetahui keagungan Allah dan rahasia-rahasia alam. Ini mengapa kiyai dinilai sebagai tokoh karismatis dan memiliki pengaruh luas di masyarakatnya dan tidak terbantahkan sama sekali dalam memimpin pesantren. (Dhofier, 1989: 56)
Keempat, santri, kata ini mungkin berasal dari bahasa Sanksekerta; sasthri yang berarti melek huruf. Di Jawa, orang yang dipandang melek huruf adalah kaum santri, paling tidak ia melek huruf Arab dan memiliki sejumlah pengetahuan utamanya pengetahuan agama Islam lewat kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab. Kata santri juga dimungkinkan berasal dari bahasa Jawa, cantrik. Yakni seseorang yang mengikuti (nderekke,Jawa) kemana saja guru pergi. Tentunya untuk bisa belajar apapun dari gurunya tersebut. Dalam perkembanganya hubungan guru cantriknya menjadi guru santri. (Madjid,1997: 33) Maka pesantren bisa berarti tempat para santri belajar kepada gurunya. Ada dua jenis santri dilihat dari bermukim atau tidaknya di pesantren. 1) santri mukim, santri yang biasanya berasal dari jauh dan bertempat tinggal di pesantren. Santri yang lebih lama tinggal dipesantren seringkali diminta membantu kiyai mengurusi santri yang lebih muda. Yang biasanya dilembagakan dalam organisasi santri semacam OSIS di sekolah umum. 2) santri kalong, umumnya berasal dari daerah sekitar pesantren yang tidak menetap di pesantren tapi mereka kembali ke rumah masing-masing setelah belajar di pesantren.
Tidak semua pesantren memiliki ke dua jenis santri ini, meskipun santri tersebut berasal dari daerah sekitar, namun pesantren mewajibkan mereka untuk tinggal menetap di pesantren. Lama belajar santri di pesantren tidak dibatasi waktu, seseorang bisa pergi dan datang kapan saja ke pesantren untuk menuntut ilmu, seseorang bisa tinggal di pesantren selama sebulan atau sepuluh tahun. Manakala ia merasa telah cukup mendapatkan ilmu, ia akan pergi ke pesantren lain untuk mempelajari disiplin ilmu lain. Begitu seterusnya hingga ia merasa cukup untuk mendirikan pesantren sendiri. Tidak semua santri bercita-cita menjadi kiyai, terutama bagi mereka yang belajar di pesantren beberapa saat sekedar untuk bisa tahu ilmu agama Islam. Dalam pola hubungan guru cantrik, seorang santri membiayai dirinya sendiri dengan mengabdi kepada gurunya atau bekerja kepada orang lain di sekitar pesantren untuk upah sebagai bekal di pesantren. Bentuk yang lebih maju seorang santri mendapatkan kiriman uang dari orangtuanya untuk biaya pendidikan di pesantren. (Dhofier, 1989: 50-54).
Kelima, pengajaran kitab-kitab Islam klasik yang lebih dikenal dengan kitab kuning. Klasifikasi keilmuan di pesantren bertumpu pada keilmuan klasik agama Islam meliputi: 1) fiqih, 2) usûl al fiqh, 3) hadits, 4) tafsir 5) tauhid, 6) tasawuf dan etika, 7) nahwu sharaf, 8) cabang lain seperti tarikh Islam, balâgah dan `ulûm al qur’ân dan `ulûm al hadîts. (Dhofier, 1989: 50).
Ini merupakan lima unsur dasar pesantren. Pesantren yang maju memiliki lebih banyak unsur lagi. Seperti temuan Mastuhu (1994; 58) unsur-unsur pesantren meliputi 1) pelaku: kiyai , ustadz, santri dan pengurus. 2) Sarana perangkat keras: masjid, rumah kiyai, rumah ustadz, pondok, ruang kelas, tanah untuk keperluan pendidikan, perpustakaan, aula, kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri, keamanan. 3) Sarana perangkat lunak: tujuan, kurikulum, sumber belajar, cara belajar mengajar. Gambaran di atas lebih banyak menjelaskan pesantren dari sisi sistem pendidikan.
2. Tujuan dan Fungsi Pesantren
Tujuan pesantren (Madjid,1997:32) adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa Islam merupakan weltanchauung yang bersifat menyeluruh. Selain itu produk lulusan pesantren diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan responsi terhadap tantangan perubahan hidup dan sosial yang berkembang dimasyarakat. Lukens-Bull (www.uib.no/jais/jais.htm) juga menulis bahwa tujuan pesantren yang memodernkan diri dengan memadukan atau mengadopsi kurikulum nasional (sistem pendidikan nasional) dan tetap mempertahankan sistem pendidikan pesantren, bertujuan memcetak generasi yang sepenuhnya modern, sepenuhnya global, sepenuhnya Indonesia, sepenuhnya Islamis (fully modern, fully globalized, fully Indonesian, fully Islamic). Meskipun bila dilihat dari fungsinya sesungguhnya pesantren bukanlah semata lembaga pendidikan pada umumnya, namun pesantren mengembangkan fungsinya menjadi (Mastuhu,1994: 59) lembaga sosial dan penyiaran agama bahkan bisa lebih meluas lagi yaitu menjadi lembaga usaha/ekonomi, bahkan menurut Azyumardi Azra fungsi pesantren adalah 1. transmisi dan transfer ilimu-ilmu Islam, 2. pemelihara tradisi Islam, 3. reproduksi ulama (Nata.ed, 2001: 112).
3. Sistem Pengajaran pesantren
Sistem belajar mengajar di pesantren diberikan dalam bentuk sorogan, bandongan (weton), halaqah dan hapalan. Sorogan merupakan cara belajar individual atas inisiatif pribadi, di mana santri berhadapan dengan seorang guru untuk mendapatkan bimbingan individual mengenai suatu ilmu. Sistem sorogan lebih banyak diterapkan dalam bentuk sistem setoran hapalan ayat-ayat al Qur’an atau hapalan lainnya. Bandongan adalah model pembelajaran yang inisiatifnya datang kiyai baik waktu, tempat maupun kitab yang akan diajarkan. Dalam bandongan seorang guru atau kiyai menerangkan hal ihwal yang ada dalam kitab, kelas bandongan ini diikuti oleh seluruh santri dalam jumlah besar. Halaqah merupakan kelompok diskusi yang ada dalam bondongan (lih. Dhofier,1994: 28, 50), (Madjid,1997: 40) (Mastuhu,1994: 61). Metode hapalan ialah suatu metode di mana santri menghapal teks-teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya. Biasanya cara menghapal ini dalam bentuk nazam atau syair berlagu, hal ini dapat memudahkan santri dalam menghapal.(Basri, 2001: 108). Metode menghapal ini utamanya untuk kitab yang ditulis dalam bentuk syair nazam, yang terkenal adalah pelajaran nahwu dan sharof yakni kitab alfiyah ibnu `aqîl dan imritiy, juga kitab `aqîdah al `awwâm. Disamping pelajaran mahfûzât dan tentunya pelajaran tahfîz; menghapal ayat-ayat al qur’an.
Pengajaran kitab-kitab pada umumnya mengambil waktu sesudah waktu-waktu shalat. Dan untuk kitab tertentu, kiyai sengaja memilih hari tertentu secara konsisten untuk mengajarkannya, misalnya kitab Sanusiyah pada malam Kamis (Madjid,1997: 37). Evaluasi ketuntusan dilaksanakan manakala santri telah betul-betul menguasai sebuah kitab, ia bisa menghadap kiyai untuk meminta pengesahan dan ijasah kelulusan yang ditulis dalam bahasa Arab yang dikeluarkan oleh gurunya terhadap muridnya yang telah menyelesaikan pelajarannya dengan baik tentang suatu kitab sehingga si murid dianggap menguasai dan berhak mengajarkannya kepada orang lain dengan mencantumkan nama murid, guru hingga pengarang kitab dalam deretan nama mata rantai transmisi pengetahuan (Dhofier,1994: 23). Yang dalam istilah hadits disebut sebagai mata rantai sanad. Ini menjelaskan pentingnya mata rantai keilmuan Islam.
Seiring dengan gerakan reformasi di Timur Tengah, pengaruhnya juga terasakan di Indonesia yang mengubah wajah tradisional pesantren menuju modern. Prestasi utama gerakan reformasi Islam di Indoesia adalah pengenalan sekolah modern ke dalam pendidikan tradisional Islam yang sudah mapan. Kaum reformis menyebut sekolahnya dengan sebutan madrasah yang oleh mereka dikatakan lebih genuine Islam di banding dengan pesantren yang kenyataannya merupakan adaptasi dari India (Hindu Budha ) dan tradisi local. Madrasah ini memperkenalkan dan mengajarkan mata pelajaran sekuler seperti aritmatika, huruf Latin, sejarah nasional dan geografi; juga kurikulum yang terorganisasi dengan mata pelajaran tertentu, kelas (tingkatan), buku-buku texbook lengkap dengan jam pelajarannya, ujian, nilai, ijazah dan seterusnya. Madrasah mengambil bentuk day-school dari pada boarding-school., maka sebagai kelanjutan dari modernisasi madrasah adalah apa yang disebut sebagai sekolah Islam (Islamic School) bentuk ini lebih mirip dengan sekolah paroki Katolik di USA. (lih. Geerzt dalam Robert N. Bellah.ed, 1965: 100-1003)
4. Tradisi Praktek Keberagamaan di Pesantren
Praktek keberagamaan pesantren dapat dilihat dari kulturnya yang merupakan sebuah cara berperilaku di dalam atau sekitar pesantren. Perilaku ini didasarkan pada nilai atau keyakinan tertentu yang telah disepakati di dalamnya. Nilai ini bersumber dari al Qur’an dan al hadits yang tertuang dalam disiplin ilmu-ilmu Islam tradisional. Budaya pesantren bisa bersifat tangible (kasat mata) dan juga intangible. Penampilan luar pesantren yang nampak sederhana, tidaklah mesti mencerminkan kekerdilan atau kepicikan dan ketertinggalan pesantren. Banyak penelitian yang menyebutkan bagaimana pesantren ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, kepedulian pesantren terhadap lingkungannya. Wujud budaya pesantren juga tercermin dari penampilan kiyai, ustadz dan santri dengan busana dan atribut islaminya. Disamping juga khasanah tradisi dan ritual yang diikutinya.( Masyhud dan Moh. Khusnuridlo, 2003:28)
Secara kultural praktek keberagamaan ini juga bisa dilihat dari sisi pergumulan atau perlakuan santri terhadap kitab kuning, penghormatan terhadap kiyai dan anaknya, ziarah kubur, selamatan, peranan yang dimainkan kiyai, amalan yang dikerjakan dan diajarkan kiyai. Kegiatan dzibaan, tahlilan, barjanji. Sikap pesantren terhadap tradisi atau adat jawa memunculkan kategori santri, abangan, priyayi. Dalam perkembangannya justru santri yang relatif lebih jawa mendapat kritik tajam dari kalangangan reformis Islam.
C. Globalisasi.
1. Makna Globalisasi
Globalisasi merupakan intensifikasi dan akselerasi/percepatan integrasi dan interaksi di antara masyarakat, perusahaan -perusahaan dan pemerintah dari berbagai negara. Proses ini mempunyai efek pada kesejahteraan/ kesehatan manusia ( termasuk kesehatan dan keselamatan pribadi), pada lingkungan, pada kultur ( termasuk gagasan, agama, dan sistem politik), dan pada pembangunan ekonomi dan kemakmuran masyarakat dunia (www.globaled.org/issues/176.pdf)
Sisi lain, menurut Tomlinson (1999:1-2) globalisasi berada di pusat kultur modern; praktek budaya berada di pusat globalisasi. Sehingga globalisasi dimaknai sebagai jaringan yang tumbuh dengan rapat dari budaya yang komplek yang saling terkait dan saling tergantung satu sama lain sehingga membentuk karakter kehidupan sosial modern.
Arus budaya global ini diarahkan oleh korporasi media internasional yang kuat dengan menggunakan teknologi komunikasi yang baru untuk membentuk identitas dan masyarakat. Ketika gagasan dan gambaran ini dapat dengan mudah dan dengan cepat dipancarkan dari satu tempat ke tempat , maka hal itu akan sangat berdampak pada cara orang menjalani hidup sehari-hari mereka. Budaya ini tidak lagi menyisakan adanya ikatan dengan tempat seperti bangsa dan kota, tetapi akan memperoleh makna baru yang mencerminkan tema dominan yang muncul dalam konteks global. Adanya interconnectivas atau saling keterhubungan ini disebabkan oleh globalisasi budaya yang melawan identitas dan nilai-nilai yang parokial/sempit, sebab ia mengikis pertalian yang menghubungkan suatu kultur ke ikatan lokal atau tempat. (Steger,2002: 34-35). Menurut Appadurai (1996:33) kekuatan media termasuk salah satu dari lima dimensi arus globalisasi yaitu: ethnoscapes, mediascapes, technoscapes, financescapes dan, ideoscapes.
Lebih lanjut, Steger merangkum beberapa pandangan mengenai globalisasi yang dapat dituturkan sebagai berikut. Dalam perpektif budaya, proses globalisasi seperti dipaparkan di atas memunculkan homogenisasi budaya global. Mengutip pendapat Gerge Ritzer, yang mengetengahkan istilah “McDonaldization” untuk melukiskan bagaimana proses yang meliputi banyak hal ini bekerja sebagaimana prinsip restoran cepat saji yang mendominasi seluruh sector masyarakat Amerika dan belahan dunia lainnya. Di permukaan prinsip ini nampak rasional dengan menawarkan efisiensi dan cara yang dapat diramalkan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun dalam studi akhirnya, Ritzer menemukan bahwa system rasional ini justru dipergunakan untuk menolak kreatifitas manusia dan perbedaan budaya dengan adanya standarisasi dari McDonaldisasi tersebut, pada gilirannya hanya menghilangkan perbedaan budaya dan dehumanisasi hubungan-hubungan sosial. Di sini dikenal adanya imperalisme budaya. Barat, lebih khusus Amerika Serikat, adalah “center” yang menjadi pusat acuan budaya, dan masyarakat-masyarakat muslim adalah “periferi” (pinggiran) yang kurang atau tidak sebagai sumber acuan dan akan terseret ke pusat dengan segala biaya sosio-kultural yang tidak sedikit. (Azra, 2001: 45)
Benjamin R. Barber menyebut imperalime budaya ini dengan istilah “McWorld” suatu kapitalisme konsumen tanpa jiwa yang dengan cepat menjelmakan penduduk dunia yang berbeda ke dalam suatu pasar seragam. Sisi lain McWorld ini memunculkan resistensi budaya dan politik yang ia sebut dengan istilah “Jihad” – menolak kekuatan homogenisasi Barat dimanapun berada. Yakni kolonialisme dan imperialisme serta anak ekonominya, kapitalisme dan modernisasi. (Steger, 2002: 36). Bagi Barber dalam salah satu artikelnya (www. Theatlantic.com/politics/foreign/bar –
berf) dibalik kejadian-kejadian saat ini ada dua kemungkinan: kesukuan kembali (retribalization) dan integrasi serta kesatuan bentuk (integration and uniformity). Dua kencenderungan ini disebut dengan kekuatan Jihad dan kekuatan McWorld yang ditopang empat desakan: pasar informasi teknologi, sumberdaya alam, dan ekologi.
Akhirnya bahwa globalisasi budaya selalu mengambil tempat dalam kontek local. Ramalan Roland Robert seperti dikutip Steger, akan pluralitas dunia karena adanya kontek lokal yang menghasilkan beragam budaya yang unik untuk merespon kekuatan global, hasilnya adalah bukan homogenisasi budaya melainkan apa yang olehnya diistilahkan sebagai “glocalization” (bukan globalization)– suatu interaksi yang komplek antara global dan lokal yang ditandai oleh salingpinjam budaya. (Steger, 2002: 35-36)
2. Globalisasi Tatanan Keberagamaan
Globalisasi yang merupakan artikulasi sistem global dengan sistem lokal yang utamanya bertumpu pada artikulasi ekonomi, diyakini mampu memberikan pengaruh pada tatanan teknologi, ekonomi, politik, budaya dan agama. Globalisasi juga terkait dengan modernisasi dan westernisasi. Bahkan kapitalisme global diyakini pula turut campur dalam pembentukan budaya dan politik. (www.uib.no/jais/jais.htm)
Ada dua sisi globalisasi dari segi dampaknya yaitu dampak positif dan negatif. Sisi positifnya adalah mudah mengakses informasi mengenai paham-paham keagamaan baik paham moderat maupun radikal. Beragam pandangan mengenai agama bisa dengan mudah didapat, tidak hanya dibatasi pada satu pendapat orang atau madzab dari satu daerah atau negara. Sisi negatifnya adalah persinggungan budaya-budaya dunia yang berdampak melemahkan ikatan-ikatan kegamaan yang selama ini telah terbangun, menjadi longgar. Orang tidak lagi memiliki komitmen terhadap agamanya secara kuat. Akhirnya tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat pesantren tidak bisa menghindarkan diri dari proses globalisasi tersebut.
Azyumardi Azra (2001: 43-44) menyatakan bahwa globalisasi dalam masalah agama bagi masyarakat Indonesia telah dimulai pada akhir abad 19 dan awal abad 20 dengan sumber globalisasi dunia Timur tengah yakni Mekkah dan Madinah juga Mesir. Ia menambahkan bahwa globalisasi ini lebih bersifat religio-intelektual meskipun kadang juga bersifat religio-politik.
Tetapi globalisasi yang berlangsung sekarang bersumber dan berwatak yang berbeda dengan globalisasi sebelumnya yang religio-intelektual. Globalisasi dewasa ini bersumber dari Barat terutama dari Amerika yang memiliki watak ekonomi-politik kapitalis dan sains-teknologi. Negara-negara Barat selama ini memegang hegemoni dan supremasi dalam berbagai lapangan kehidupan masyarakat dunia umumnya.
Hegemoni sanis dan teknologi misalnya telah memunculkan “telenovelisasi” masyarakat muslim yang melalui program ini terjadi penetrasi nilai-nilai permisivness hubungan antara laki-laki dan perempuan, kehidupan yang serba materialistik dan hedonistik dan juga budaya instant.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Tesis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s