Bab III: Metodologi Penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif holistic dengan melihat atau memahami fenomena yang ada tanpa melepaskan dari hubungan-hubungan dengan fenomena lainnya yang saling terkait.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan karena yang menjadi obyek penelitiannya maupun data-datanya digali langsung oleh peneliti di lapangan. Penelitian ini juga termasuk penelitian kualitatif yang secara umum bertujuan untuk memahami dunia makna yang disimbolkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis, antropologis dan fenomenologis. Penulis menggunakan pendekatan sosiologis untuk menyelidiki aspek sosial agama, hubungan antara agama dengan masyarakat pesantren yang menjadi tempat penelitian. Dalam hal ini termasuk bagaimana agama mempengaruhi individu-individu atau masyarakat pesantren sebagaimana mereka mempengaruhi agama. Sedangkan pendekatan antropologis, dimaksudkan untuk melihat manusia yang ada dalam komunitas pesantren sebagai makhluk berbudaya dengan segala keunikannya yang membutuhkan agama dan mengekspresikan keberagamaan itu dalam pola-pola tertentu (Suprayogo dan M. Thobroni, 2001:61-62). Sedangkan dengan pendekatan fenomenologis dimaksudkan mencari makna lewat pencarian esensinya serta momotan moral dan etiknya. (Muhadjir, 2000:23) Dengan melakukan pendekatan holistik terhadap fokus penelitian tanpa melepaskan dari konteks natural dan keseluruhannya. Pendekatan fenomenologis menuntut penulis menyatu dan menghayati obyek penelitian dan subyek pendukungnya untuk dapat menangkap makna sebagaimana masyarakat pesantren PPMI Assalaam yang menjadi tempat penelitian memaknai dirinya sendiri bukan makna oleh kerangka pikiran penulis. (Muhadjir, 2000:25)
C. Sumber data
Penelitian ini menggunakan berbagai sumber data antara lain:
1. Informan, yang penting dari informan ini adalah bahwa ia bukan sekeder sebagai sumber data tapi ia merupakan subyek yang diteliti, aktor yang juga menentukan sukses tidaknya sebuah penelitian berdasar informasi yang diberikannya. Informan ini mungkin saja berupa santri, ustadz ustadzah, karyawan, kiai, pejabat struktural.
2. Peristiwa, dengan data ini peneliti bisa mengetahui proses bagaimana sesuatu terjadi secara lebih pasti karena dapat melakukan pengamatan terhadap peristiwa itu secara langsung dan dapat pula mengadakan crosscheck terhadap informasi verbal yang diberikan oleh narasumber. Dalam penelitian ini, peristiwa ini bisa saja berupa kegiatan belajar mengajar, shalat berjama’ah, aktifitas olah raga, rapat, kehidupan di asrama, kehidupan keseharian di pesantren, kegiatan mengaji, majlis taklim, I`tikâf, makan.
3. Tempat, informasi mengenai tempat atau lingkungan focus penelitian akan dapat memberikan kajian lebih cermat. Dalam penelitian ini adalah masjid, asrama, kantor, masjid, ruang makan, ruang rapat, kelas, perpustakaan, lapangan, tempat wudlu.
4. Sumber data lainnya adalah dokumen yang merupakan rekaman tertulis aktifitas tertentu bisa pula berupa rekaman gambar benda–benda yang berkaitan dengan suatu peristiwa. Dokumen ini meliputi brosur, arsip sekolah, arsip kesantrian, bahan rapat, bahan pengajian dan arsip lain dalam bentuk file-file komputer, hasil penelitian terdahulu, buku panduan, album foto, arsip laporan pertanggung jawaban suatu kegiatan.
D. Metode pengumpulan data
Berikut ini disajikan tiga metoda riset kualitatif yang dipergunakan dalam penelitian ini (www.youthandreligion.org).
1. In-Depth Interview (wawancara mendalam), dengan wawancara ini tersedia bagi penulis suatu forum untuk tatap muka dengan santri, karyawan, ustadz ustadzah dan pejabat struktural, bagaimana mereka menyatakan dalam kata-kata mereka sendiri mengenai perasaan dan pemikiran dan pengalaman mereka tentang berbagai hal yang menjadi perhatiannya. Wawancara juga memberi peluang bagi penulis untuk menggunakan pertanyaan berkelanjutan untuk memeriksa informasi lebih lanjut tentang isu yang muncul dalam diskusi mereka.
Selanjutnya, catatan wawancara yang diperoleh oleh penulis dijadikan alat yang bermanfaat untuk mengidentifikasi tema atau pola di antara tanggapan subyek yang diteliti. Wawancara juga memberi mereka suatu kesempatan untuk memperbicangkan tentang hal-hal yang penting bagi mereka dan menjadikan suara mereka terdengar oleh orang lain.
2. Observasi, dalam penelitian ini menggunakan Participant Observation. yakni pendekatan yang dipergunakan oleh penulis untuk meneliti dinamika pesantren dalam setting alaminya, tidak hanya sekedar respon individu terhadap pertanyaan yang dilontarkan penulis. Dengan observasi ini penulis dapat mengamati pola tersembunyi perilaku dan interaksi subyek yang diteliti yang mana mereka sendiri mungkin tidak menyadari atau mengartikulasikan.
Penulis di dalam kelas mengikuti proses kegiatan belajar mengajar, penulis juga mengikuti kegiatan pengajian yang diselenggarakan oleh PPMI Assalaam, di dalam asrama penulis mengamati kegiatan yang dilakukan santri.
Satu hal yang penting diperhatikan oleh penulis dalam riset participant observation adalah masalah situasi sosial (social situation). Dengan mengetahui konsep situasi sosial ini penulis akan mudah menemukan tempat yang menarik dan tempat yang dapat dijadikan kerja penelitian. Situasi sosial ini dapat diidentifikasi lewat tiga elemen pokok yakni tempat, pelaku dan aktifitas (Spradley, 1980:39 dst). Berikut disajikan penjelasan bagaimana tiga elemen ini berperan membantu penulis dalam melakukan penelitian. Pertama, penulis melakukan pengamatan terhadap seting fisik apapun yang dapat menjadi basis situasi sosial selagi orang-orang menampilkan dan melakukan aktifitasnya. Misalnya, penulis mengamati sekolahan tempat santri dan ustadz melakukan kegiatan belajar mengajar juga merupakan tempat guru dan kepala sekolah memerankan peranannya masing-masing. Masjid, tempat imam dan makmum melakukan shalat. Ruang tempat rapat pimpinan dan stafnya. Asrama tempat santri tinggal , tempat pengajian dan seterusnya,. Tiap tempat ini menyediakan peluang yang kaya bagi penulis untuk melakukan participant observation.
Kedua, yang termasuk dalam situasi sosial adalah orang-orang yang umumnya dianggap sebagai pelaku. Penulis juga melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang terlibat dalam sekolah yang bisa berperan sebagai siswa, ustadz ustadzah, kepala sekolah, petugas laborat, karyawan tata usaha, penjual di kantin. Penulis perlu memperhatikan macam-macam pelaku dalam aktifitas kesantrian misalnya, pengasuh atau pembimbing, pengurus organisasi, anggota organisasi, kepala bidang kesantrian, wali rayon/asrama. Penulis juga mengamati pelaku dalam masjid dari petugas adzan, petugas kebersihan, makmum, imam, petugas penceramah dan bagian I`lân (pengurus yang bertugas mengumumkan hal-hal yang perlu diketahui santri) dan ta`lîm (pengurus yang bertanggung jawab terhadap sopan santun dan pengajaran santri)
Ketiga, penulis juga memperhatikan aktifitas yang memerlukan tempat, merupakan elemen situasi sosial. Dengan melakukan pengamatan berulang tingkah laku individu mulai disadari sebagai pola aktifitas. Terkadang beberapa aktifitas dihubungkan bersama sehingga membentuk pola yang lebih luas yang disebut even. Tapi sulit membedakan antara even dan aktifitas. Even ini terjadi dalam situasi sosial yang berbeda. Sholat berjama’ah misalnya, bisa jadi mencakup pengerjaan syarat-syaratnya terlebih dahulu, mulai dari wudhu, menutup aurat, meletakkan alas kaki di halaman masjid sesuai garis “parkir” sandal sebelum menaiki tangga masjid, membaca do’a masuk masjid, memilih saf, melakukan shalat tahiyyat masjid, duduk menunggu iqâmah, membaca buku (atau ngobrol, terkantuk-kantuk). Berdiri untuk shalat berjama’ah hingga selesai melakukan shalat, berdzikir dan berdo’a, shalat sunat ba’diyah bagi shalat yang memiliki shalat ba’diyah), menunggu pengumuman-pengumuman, keluar masjid. Seluruh kegiatan ini dihubungkan bersama membentuk satu even yakni shalat berjama’ah. Seorang pelaku bisa saja berpindah dari satu tempat aktifitas ke tempat lain, maka disini penulis perlu melakukan pengamatan dan pencatatan berbagai aktifitas dalam satu situasi sosial sehingga diharapkan nantinya struktur even akan nampak jelas.
3. Metode dokumentasi diperlukan untuk melihat catatan-catatan perjalanan sejarah pesantren, mendeskripsikan data pesantren secara umum. Maka disini penulis mendapatkan dokumen yang berupa arsip sekolah dan kesantrian, arsip kepegawaian, buku-buku dan majalah serta brosur yang diterbitkan oleh PPMI Assalaam, penanggalan yang dikeluarkan oleh PPMI Assalaam. Hasil laporan pertanggung jawaban (LPJ) suatu kegiatan.
E. Analisis data
Analisis data merupakan upaya penulis mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman penulis tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Untuk meningkatkan pemahaman tersebut, penulis melakukan analisis lebih lanjut dengan upaya mencari makna (Muhadjir,2000:142). Metode pemaknaan yang dipakai oleh penulis di sini adalah metode pemaknaan interaksionisme simbolik. Memberi makna berarti memberi penafsiran hasil penelitian dengan mencurahkan seluruh kemampuan integrative penulis (indera, daya pikir, akal budi). Memberi makna juga berati juga mensejajarkan dengan ekstrapolasi dalam arti materi yang disajikan sekedar merupakan indikator bagi sesuatu yang lebih jauh. Memberi makna dimaksudkan oleh penulis sebagai upaya menangkap hal yang lebih jauh di balik yang tersajikan bahkan menjangkau yang etik maupun transendental.(Muhadjir, 2000: 188)
Pekerjaan analisis data dalam hal ini dilakukan dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan melakukan kategorisasi data-data yang telah dikumpulkan penulis (Moleong,2002: 103). Untuk keperluan kategorisasi data didasarkan pada namanya, fungsinya atau alasan lainnya sekaligus diperbandingkan dasar pengelompokannya, selanjutnya dari kategori-kategori tersebut di cari ciri-cirinya, langkah selanjutnya adalah merumuskan dan menuliskan teorinya (Muhadjir, 2000: 178)
Berikut ini disajikan resume langkah-langkah penelitian:
Sebagai pedoman kerja menggunakan langkah-langkah penelitian model lingkaran penelitian dimulai dari memilih proyek penelitian, membuat pertanyaan penelitian, mengumpulkan data, membuat catatan hasil penelitian, melakukan analisa data yang menuntun untuk menemukan pertanyaan penelitian lebih lanjut, tambahan pengumpulan data, tambahan catatan lapangan, tambahan analisa hingga akhirnya kerja penelitian menjadi lebih komplit. Terakhir dari langkah ini adalah menuliskan penelitian dilakukan diakhir proyek penelitian, namun juga penulisan penelitian bisa memberikan pertanyan penelitian yang baru dan tambahan observasi. Menulis hasil penelitian dapat memaksa peneliti masuk ke berbagai analisa baru dan lebih intensif (Spradley, 1980: 27 dst)
Untuk memudahkan kerja penelitian tersebut maka dibuat matrik berikut:
Penelitian unsur-unsur praktek keagamaan
Deskripsi bentuk-bentuk praktek keberagamaan
1. Gambaran Umum Pesantren
2. Gambaran Khusus pesantren
3. Praktik keberagamaan di PPMI Assalaam

A. Gambaran Umum Pesantren
1. Lingkungan luar pesantren
2. Lingkungan dalam pesantren
a. Lingkungan Fisik
b. Asrama Santri
c. Masyarakat Pesantren
B. Gambaran Khusus Pesantren
1. Pengertian
2. Tujuan
a. Tujuan yang ingin dicapai
b. Arti Logo dan Assalaam
3. Masyarakat dan pengelola pesantren
a. Yayasan
b. Pesantren (pimpinan, guru, karyawan)
c. Santri
d. Anggota keluarga dan lainnya
e. MPP
4. Pelapisan Sosial Masyarakat PPMI Assalaam
a. Pejabat-non pejabat
b. Santri – pengasuh
c. Guru – karyawan
d. Santri senior – santri yunior
5. Struktur organisai
6. Sistem pengajaran agama
a. Pendidikan formal
b. Pendidikan non formal
c. Buku (kitab)
d. Metode
e. Pengelompokan mapel agama
C. Praktek Keberagamaan di PPMI Assalaam
1. Sistem ritual atau ibadah
a. Syarî`ah
b. Teks dan Cerita suci: Al Qur’an dan Hadits
2. Pengaturan Waktu dan Ibadah (Ruang dan Waktu)
a. Penanggalan
b. Sistem peribadahan Muslim sepanjang tahun: harian, mingguan, tahunan
c. Perayaan hari besar
d. Tempat beribadat
3. Praktek keberagaamaan dalam Siklus kehidupan
a. Kelahiran, `aqîqah dan penamaan
b. Masa Akil Baligh
c. Perkawinan
d. Kematian
4. Ketaatan: Kegiatan Untuk Menjaga Komitmen Keagamaan
a. Wirid, Do’a, Dzikir, Membaca al Qur’an,
b. Kegiatan keagamaan atau kelompok-kelompok keagamaan, majlis taklim
c. Pakaian
d. Grup nasyid

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Tesis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s