Bab IV: Sajian data dan pembahasan

BAB IV
SAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dikemukakan apa yang menjadi temuan penelitian beserta pembahasannya yang akan dituangkan menjadi beberapa sub-bab dimulai dari gambaran umum tentang pesantren yang diteliti hingga model-model praktek keberagamaan di dalamnya.
A. Gambaran Umum Pesantren
Penggambaran umum mengenai PPMI Assalaam lebih menekankan pada unsur fisik pesantren mencakup lingkungan luar dan dalam PPMI Assalaam. Penggambaran lingkungan ini dirasa penting mengingat bahwa kepribadian individu dan kelompok dibentuk oleh lingkungan kehidupan yang mengasuhnya. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang wajib dikerjakan dan wajib ditinggalkan, apa yang sebaiknya dikerjakan dan apa yang sebaiknya ditinggalkan. Di PPMI Assalaam hal-hal seperti ini diatur dalam tata tertib dasar santri. (Mastuhu,1994: 90)
1. Lingkungan luar pesantren
Kampus Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam (disingkat PPMI Assalaam) terletak di atas sebidang tanah yang secara administratif berada di kelurahan Pabelan (kampus satu) dan di kelurahan Gonilan (kampus dua), kecamatan Kartasura kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. Kalurahan ini terletak di antara kota Surakarta dan Kartasura, wilayah ini merupakan sub-urban sisi barat kota Surakarta. PPMI Assalaam berjarak 500 meter dari jalan raya Ahmad Yani yang menghubungkan antara kota Surakarta dengan Yogyakarta dan Semarang. Hal ini menjadikan PPMI Assalaam mudah dijangkau baik dengan kendaraan umum atau pribadi. Bagi yang menggunakan jasa kendaraan umum untuk menjangkau PPMI Assalaam, ia bisa berhenti di jalan tersebut kemudian meneruskan ke PPMI Assalaam dengan berjalan kaki atau naik becak dengan membayar ongkos sebesar Rp. 2000, sedangkan bagi yang memiliki kendaraan pribadi, ia langsung bisa menjangkau lokasi PPMI Assalaam.
Secara ekonomis, jalan raya ini merupakan jalur utama penghubung antar berbagai kota di wilayah Jawa bagian selatan. Juga menghubungkan jalur kepariwisataan wilayah Surakarta dengan Yogyakarta dan Magelang dan juga kota-kota lainnya, dengan demikian jalur ini merupakan jalur padat.
Kampus PPMI Assalaam dikitari berbagai lembaga. Sisi timur terletak Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) dan Akademi Bahasa Asing serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) yang berada di bawah naungan Yayasan Katolik. Juga terdapat LPK Kasatriyan. Selain itu terdapat pula pemukiman baru penduduk. Sisi selatan terdapat rumah sakit Islam, rumah sakit orthopedi, SMU 2 Sukoharjo, Universitas Muhammadiyah Surakarta, LPK Alfabank dan rumah putra ketua yayasan MPI yang menaungi PPMI Assalaam. Sisi barat terdapat perumahan Nila Sari dan Nila Graha serta pertumbuhan perumahan-perumahan baru juga terdapat kampung Pabelan. Sementara sisi utara terdapat kampung Gonilan, perumahan penduduk pendatang dan juga putra ketua YMPI. Mayoritas pemukiman yang ada di sekitar PPMI Assalaam diperunutkkan pula sebagai tempat kos bagi para mahasiswa.
Secara ekonomi kawasan sekitar PPMI Assalaam merupakan kawasan perdagangan dan pertokoan maupun usaha bisnis dengan beragam usaha. Ada usaha wartel, toko kelontong, perbengkelan, tambal ban, rental komputer dan vcd, jasa poto kopi, kios majalah dan koran, tukang cukur, toko bangunan, toko elektronik, toko pakaian, bahkan counter HP maupun komputer, hingga pedagang kaki lima maupun warung-warung makan yang bertebaran disepanjang jalan dari jalan raya menuju kampus PPMI Assalaam. Keadaaan seperti ini juga dapat dilihat di sepanjang jalan raya, bahkan dalam skala lebih besar dan lebih ramai. Di sana terdapat swalayan Relasi Jaya, pusat perkulakan dan retail Alfa, juga pusat perbelanjaan dan perkulakan Goro Assalaam. Ini menunjukkan bahwa rata-rata mata pencaharian penduduk sekitar PPMI Assalaam adalah pegawai atau wiraswasta. Meskipunpun juga terdapat lahan di antara pertumbuhan pemukiman penduduk yang masih dikelola sebagai persawahan.
Lingkungan keagamaan, dilihat dari fasilitas masjid maka di setiap arah PPMI Assalaam terdapat masjid. Di sisi utara ada masjid Abu Bakar. Sisi timur ada masjid Baitusyukur dan masjid al Kautsar di sisi selatan terdapat masjid Fadlurahman dalam kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sebelah barat terdapat masjid Nila Sari. Aktifitas keagamaan menunjukkan corak kemuhammadiyahan dan sejenisnya dari pada corak NU.
2. Lingkungan dalam pesantren
a. Lingkungan Fisik
Kampus PPMI Assalaam dibatasi pagar tembok yang di atasnya dililitkan kabel berduri. Hanya sisi depan yang dipagari dengan ornamen besi. Pagar ini memisahkan antara tanah pesantren dan luar pesantren. Kampus satu yang terletak di wilayah Pabelan dan kampus dua yang terletak di wilayah Gonilan dipisahkan oleh jalan umum yang menghubungkan antara jalan raya dengan kampung Gonilan serta pemukiman baru penduduk.
Ada lima pintu gerbang yang terdapat dalam kampus satu. Keseluruhan pintu ini menghadap barat. Satu pintu terletak di sebelah utara dekat masjid, tiga pintu terdapat di tengah dan satu di sisi selatan, serta satu pintu gerbang rumah kiyai yang menghadap jalan umum. Sehari-hari hanya satu pintu gerbang yang difungsikan untuk keluar masuk kampus PPMI Assalaam, yaitu pintu gerbang utama nomor tiga dari utara. Di dekat pintu ini terdapat pos Satpam dengan tiga personel untuk penjagaan siang hari dan dua personel untuk penjagaan malam hari. Di luar pintu gerbang berjajar becak yang siap mengantarkan penghuni PPMI Assalaam menuju jalan raya atau kawasan sekitarnya. Terkadang tukang becak ini duduk-duduk di becaknya atau main catur disamping becaknya.
Di pintu gerbang terdapat tulisan mengenai peraturan berkunjung, begitu memasuki kampus PPMI Assalaam mata akan melihat satu tulisan besar papan pengumuman “NO SMOKING AREA” yang ditulis dengan huruf kapital warna menyolok dalam tiga bahasa; Arab, Ingrris dan Indonesia. Di atas pintu gerbang seringkali dipasang spanduk mengenai berbagai event yang digelar di PPMI Assalaam. Bagi tamu yang hendak berkunjung, ia harus menitipkan kartu identitas diri untuk ditukar dengan kartu tamu. Bagi orang tua murid, ia harus menitipkan kartu identitas berupa kartu wali yang menjelaskan nama wali, alamat dan identitas anaknya yang belajar di PPMI Assalaam.
Pemetaan lingkungan dalam PPMI Assalaam secara fisik dapat digambarkan sebagai berikut. Secara garis besar lokasi PPMI Assalaam dibedakan menjadi dua; satu lokasi putra dan lokasi putri, antara keduanya dipisahkan oleh dari depan, lapangan upacara, gelora dan dapur serta perpustakaan. Di lokasi putra terdapat berbagai bangunan masjid, kelas-kelas, perumahan guru tipe A dan B, kantor BK putra, kantor kesantrian putra, dua asrama besar yang disebut rayon satu dan dua. Kamar mandi, tempat mencuci dan menjemur, reservoir, tiga deret kamar khusus. Perumahan karyawan, kantor logistik, kantor dapur, kantor gudang. Serta perumahan tipe D dalam bentuk kamar berderet yang dihuni oleh pegawai bujang tiap kamar dihuni oleh dua orang. Toko dan kantin putra. Perpustakaan putra. Kantor pengurus pelajar putra. Usaha Kesehatan Pondok Putra.
Sedang di lokasi putri terdapat bangunan kantor pusat lantai satu dan gedung pertemuan yang terletak di lantai dua. Laboratorium komputer dan bahasa. Kantor litbang, kelas-kelas, dua asrama besar, tiga asrama khusus. Perumahan karyawan. Perumahan tipe B dan C untuk guru dan pejabat di lingkungan PPMI Assalaam. Kamar mandi, tempat mencuci, tempat menjemur pakaian dan reservoir. Rumah kiyai, laboratorium IPA. Lapangan voli dan basket, toko dan kantin putri, perpustakaan putri, Kantor pengurus pelajar putri. Ruang guru putra dan putri. Garasi mobil. Kantor BK putri dan kantor kesantriyan putri. Juga kantor akuntasi. Usaha Kesehatan Pondok Putri.
Khusus perumahan yang terdapat di komplek putri dapat dipetakan sebagai berikut. Ada tiga tipe perumahan, pertama tipe B. Perumahan ini terdiri dari satu deret membujur ke arah selatan menghadap barat berhadapan dengan dengan asrama santriwati KPT 2 tiga lantai. Terdiri dari sembilan rumah mulai dari B7 hingga B15. Dengan luas lebih kurang 10 X 10 m2, lengkap dengan kamar tamu, tiga kamar tidur, gudang, dapur dan lantai teraso. Permahan ini dihuni oleh pejabat Wakil direktur, tempat Usaha Kesehatan Pondok, Kepala Sekolah MTs, Kepala Kesantrian putri, dan pejabat lain. Kedua perumahan tipe C yang berbelakangan dengan perumahan tipe B, dan menghadap ke timur berhadapan dengan asrama santri Kagatri. Terdiri dari sepuluh rumah mulai dari C1 hingga C10. Yang pada umumnya dihuni oleh pejabat setingkat wakil, misalnya wakil kepala bidang kesiswaan, kasi pelayanan perpustakaan dan lainnya. Perumahan tipe C luasnya lebih sempit dibanding perumahan tipe B. Di tengah-tengah perumahan dipotong gang sempit yang oleh santri dinamakan gang senggol. Ketiga adalah perumahan karyawan terletak di sebelah selatan berhimpitan dengan tembok pagar melintang ke arah barat dan satunya lagi membujur dari arah selatan ke selatan menghadap barat yang berdempetan dengan tembok pagar bagian timur. Masing-masing rumah tipe ini dindingnya terbuat dari seng dan berlantai semen dan lebih sempit dari perumahan tipe C. Perumahan ini dihuni oleh karyawan yang sudah berkeluarga, ada yang sebagai sopir, petugas K3, petugas perbaikan, petugas dapur dan lainnya. Perumahan ini lebih dikenal perumahan seng.
Hubungan sosial antar keluarga terlihat cukup akrab terutama penghuni tipe seng. Barangkali status mereka yang selain sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga juga umumnya sebagai karyawan. Berbeda dengan perumahan tipe B dan C yang bagi ibu rumah tangga melulu sebagai ibu rumah tangga meskipun ada juga yang menjadi ustadzah, atau karyawan kantor. Untuk ibu-ibu ini bisa dikatakan jarang keluar dari rumah kecuali untuk keperluan tertentu. Bagi keluarga yang suami istri bekerja rata-rata mengambil pembantu untuk membantu kelancaran urusan rumahtangga.
Antara lokasi putra dan lokasi putri dihubungkan jalan beraspal, yang juga menghubungkan berbagai bangunan perkantoran. Sedangkan di depan gelora terdapat kantor Kas BPD Jateng dan wartel juga Kantor keuangan PPMI Assalaam.
b. Asrama Santri
Elemen atau unsur pesantren yang termasuk utama adalah adanya asrama atau pondokan tempat tinggal santri. Ada lima blok asrama putra. dua pertama merupakan asrama biasa disebut rayon satu dan rayon dua yang dihuni oleh santri kelas satu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Takhashushiyah yang merupakan santri baru, dan rayon lainnya diperuntukkan untuk santri lama (yang telah nyantri lebih dari satu tahun). Tiap rayon terdiri dari 30 kamar yang tiap kamar dihuni oleh sekitar 20 santri. Tiap kamar tersedia almari besi bertingkat yang disediakan oleh PPMI Assalaam untuk menyimpan pakaian dan buku santri selama belajar, juga kasur busa milik santri yang ditumpuk dan ditata bila hendak tidur. Dua asrama lainnya bertingkat yang merupakan asrama khusus, dalam arti santri yang hendak menempati kamar ini ia dipungut biaya tambahan sebagai sewa kamar, tiap kamar dihuni empat santri, lengkap dengan kamar mandi, tempat tidur dan meja belajar. Selain dikenakan tambahan biaya, juga diadakan seleksi bagi santri yang ingin menempati kamar khusus ini, diantaranya adalah sudah satu tahun tinggal di PPMI Assalaam, tidak memiliki catatan sulûk (kepribadian) buruk serta memiliki prestasi akademik bagus. Satu asrama lain yang juga merupakan kamar khusus, sebagaimana dua asrama lainnya, hanya kamar mandi terletak di luar kamar.
Sedangkan untuk santriwati disediakan lima asrama, dua merupakan asrama besar sebagaimana halnya asrama di santriwan. Tiga asrama khusus, salah satunya bertingkat tiga. Asrama khusus ini peruntukannya sebagaimana halnya tiga asrama khusus yang ada di lokasi santriwan.
Fasilitas ini selain menyediakan tambahan pemasukan bagi pengelola dalam mengelola PPMI Assalaam, juga memberikan kesempatan terhadap santri untuk bisa menikmati kenyamanan hidup di asrama. Sehingga untuk beberapa kegiatan pribadi tidak harus antri, misalnya untuk mandi dan mencuci, dan kesempatan belajar lebih banyak di dalam kamar.
c. Masyarakat Pesantren
Sebagai mana layaknya sebuah masyarakat dalam satu kalurahan, masyarakat pesantrenpun sesungguhnya memiliki kemiripan dengan masyarakat lainnya. Yang membedakan barangkali kekhasan sifatnya yang lebih diikat oleh nilai-nilai religius, nilai kerja, nilai pendidikan dan lebih bersifat homogen.
Ajaran Islam banyak memberikan inspirasi warga PPMI Assalaam untuk lebih menghayati agamanya. Mulai dari cara berpakaian, melaksanakan ibadah, tata cara hidup sehari-hari, semuanya menunjukkan kesatuan dan keutuhan sebuah masyarakat khas pesantren.
Di sisi lain, keseragaman kerja yang apapun tugas itu, mulai dari direktur, ustadz, karyawan tata usaha, karyawan dapur, karyawan kebersihan dan anggota keluarga menyadari sepenuhnya bahwa mereka terlibat dalam tata kerja pendidikan pesantren, yang sepenuhnya dilandasi oleh semangat pendidikan.
B. Gambaran Khusus Pesantren
Pada bagian A menggambarkan unsur PPMI Assalaam dari lingkungan fisiknya, maka berikut ini akan digambarkan unsur lain dari PPMI Assalaam sebagai sebuah pesantren menyangkut pelaku dan pengelola serta pengajaran kitab. Namun akan digambarkan terlebih dahulu persepsi pesantren yang berkembangan di lingkungan PPMI Assalaam, tujuan yang hendak dicapai, arti logo dan nama.
1. Pengertian
Beberapa pengertian tentang pesantren dari para peneliti sudah dikemukakan di bab terdahulu. Di sini akan dikemukakan pengertian yang berkembang di kalangan orang pesantren sendiri mengenai pengertian pesantren. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkap kemungkinan perilaku praktek keberagamaan dunia pesantren berdasar persepsinya tentang pesantren. Untuk menguak korelasi praktek keberagamaannya dengan persepsinya tentang pesantren. Karena persepsi tentang sesuatu diasumsikan akan mempengaruhi perilaku yang berkait dengan sesuatu dalam hal ini pesantren. Asumsi yang berkembang adalah bahwa pesantren merupakan lembaga keagamaan yang mengikat individu di dalamnya untuk berperilaku sesuai dengan tuntunan agama yang dikembangkan di pesantren.
Pengertian yang dikembangkan oleh wakil direktur I bertolak dari fungsi lembaga pesantren sebagai lembaga dakwah. Atau berangkat dari sisi dakwah atau pergerakan Islam (harakah Islâmiyah) sebagai bagian dari umat Islam dunia. dimana dilihat dari perpektif ini maka pesantren dipersepsi sebagai sebuah entitas untuk menyemai generasi masa depan dengan menyebarkan fikrah kebaikan, tanmiyah al kafâ’ah; meningkatkan kemampuan santri, mengembangkan potensi yang dimiliki santri baik potensi fikriyah, ruhiyah dan akliyah. Dan terakhir bahwa pesantren bisa juga merupakan tempat mendapatkan ma`îsyah. Maka dituntut profesionalisme kerja yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren. Diharapkan dengan standar profesionalisme ini imbalan atau gaji yang diterima pegawai menjadi berbarakah. Ini mengimplikasikan idealnya sebuah lembaga keislaman, adanya sistem qudwah, merintis sistem pendidikan islam baru yang harus tanggap dengan berbagai persoalan dan realita serta perubahan jaman. Dalam hal ini maka perlu dikemukakan pula apa yang disampaikan oleh ketua umum yayasan dalam pembukaan pelatihan kepengasuhan pada hari Jum’at tanggal 14 Pebruari 2004 di Lt II Kantor pusat Assalaam, ia menyampaikan bahwa dalam berpakaian sebaiknya mengikuti mengikuti aturan tatabusana sehingga seseorang diharapkan bisa tampil modis sekaligus Islami sesuai dengan tuntunan syarî`ah. Contoh kecil, paduan celana panjang lebar dengan baju panjang untuk wanita, baju sepeerti ini dinilai memilki sisi kepraktisan, memberikan keleluasan bergerak sekaligus terkesan modis dan tetap dalam jalur syarî`ah.
Hal ini menjadi menarik karena dari sisi agama, Islam mengatur soal berpakaian ini, utama sisi memelihara martabat, khususnya wanita, sehingga dalam berpakaian seorang wanita diharapkan menutup aurat, tidak menampakkan bentuk tubuh. Sementara sisi lain, tidak bisa dipungkiri, dalam berpakain juga terkandung unsur seni atau estetika yang terekpresikan dalam desain mode. Terlebih pakaian juga merupakan simbol keagamaan, sehingga bisa dibedakan orientasi keagamaan seseorang berdasar pakaian ini. Meskipun tidak selamanya menunjukkan orientasi keagamaan namun paling tidak dapat memberikan arah pengenalan awal orientasi keagamaan yang ada. Masalah ini akan dikemukakan lebih jelas dalam subbab berikut berkaitan dengan salah satu unsur praktek keagamaan yakni menyangkut ketaatan beragama.
2. Tujuan
a. Tujuan yang ingin dicapai
Untuk mengetahui yang menjadi tujuan pendidikan PPMI Assalaam yang barangkali juga merupakan pedoman yang menjadi acuan pengembangan seluruh gerak komponen PPMI Assalaam dan sikap keberagamaannnya, berikut ini dikutipkan apa yang digagas oleh salah seorang dewan pakar YPMI, ke depan PPMI Assalaam membangun impian masa depannya : terwujudnya insan yang memiliki keseimbangan spiritual, intelektual, dan moral menuju generasi ulul albab yang berkomitmen tinggi terhadap kemaslahatan umat dengan berlandaskan pengabdian kepada Allah swt. PPMI Assalaam ingin mewujudkan empat misi: (i) menyelenggarakan proses pendidikan Islam yang berorientasi pada mutu, memiliki daya saing tinggi, dan berorientasi pada rahmatan lil’alamin (ii) mengembangkan pola kerja pondok pesantren yang profesional Islami guna menciptakan suasana kehidupan pesantren yang tertib, aman, dan damai (iii) meningkatkan citra pesantren yang berwawasan sains dan teknologi informasi serta budaya modern yang Islami. Dua hal yang menjadi amanah para founding father PPMI Assalaam adalah bersih dan modern.( Bakar, 2003: 2)
Secara detail dalam paparan selanjutkan anggota dewan pakar ini menulis bahwa santri dalam sikap kesantrian ia diharapkan memiliki hapalan ayat-ayat al Qur’an dan hadits dalam jumlah tertentu, memiliki pengetahuan tentang adab yang luas. Selain itu ia juga harus memiliki sikap zuhud, warâ`, dan khawf dalam melaksanakan ibadah dan dalam bermu’amalah. Ia juga diharapkan memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang genuin. Sementara dalam sisi keilmuan santri PPMI Assalaam diharapkan memiliki kecerdasan intelektual serta prestasi akademik yang tinggi, mampu melakukan penelitian bagi pengembangan keilmuan dasar, mampu menterjemahkan ketentuan syari’ah secara situasional, dan mampu memahami proses penciptaan alam (kosmologi). Selanjutnya, santri diharapkan memiliki keilmuan dasar yang lengkap, luas dan mendalam, serta memiliki gairah pengembangannya. Ia juga mampu memahami penerapan teori ilmu alam dan sosial juga ilmu analisis untuk memahami perilaku ekonomi bisnis.
Kemudian dalam keterampilan santri diharapkan menguasai seluk beluk komputer, software dan hardware dan mampu mengoperasikannya. Mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab dan Inggis dan menggali ilmu pengetahuan yang ditulis dalam kedua bahasa tersebut. Memiliki jiwa enterpreneurship dalam keseharian dan memiliki fisik yang sehat, berprestasi dalam salah satu cabang olah raga maupun kesenian islami (Bakar, 2003:lampiran 1 hal 1-2)
Ini diharapkan dapat menggambarkan secara konkret out put santri yang ingin dihasilkan kaitannya dengan modernitas globalisasi.
b. Arti Logo dan Assalaam
Apa yang diuraikan di atas dilambangkan dalam sebuah logo berikut:

logo di atas terdiri dari tiga hal pokok yakni 1) kubah, 2) Kitab, 3) segilima hijau, adapun penjelasan singkat mengenai arti logo di atas adalah:
1) Kubah Masjid adalah lambang spiritual; diharapkan para santri lulusan Assalaam memiliki `aqîdah sahîhah yang mantap, sehingga dimanapun nantinya mereka berada tidak akan mudah terpengaruh oleh budaya negatif dalam pergaulan sehari-hari, dengan konsisten dan istiqomah mempertahankan jati dirinya sebagai seorang santri.
2) Kitab Kitab melambangkan ciri intelektual ; disamping `aqîdah yang mantap santri Assalaam nantinya diharapkan juga berilmu pengetahuan yang luas, baik ilmu-ilmu diniyah, ilmu-ilmu alamiyah dan teknologi serta ilmu-ilmu sosial yang lain. Santri lulusan Assalaam dengan bekal Aqidah/spiritual yang memadai diharapkan dapat melanjutkan studi di perguruan tinggi umum dan agama baik dalam maupun luar negeri, agar dikelak kemudian hari menjadi Ilmuan yang tafaqquh fiy al dîn (ûlû al bâb)
3) Segilima Hijau merupakan lambang Akhlâq al Karîmah (Moral Islamiyah); tamatan Assalaam sebagai generasi muslim, generasi Rabbani, yang taat beribadah (spiritual mantap), cerdas dan berilmu pengetahuan luas (intelektual tinggi) dan tidak meninggalkan suritauladan/uswah hasanah dari junjungan nabi Muhammad saw. dengan akhlâq al karîmah (moral islamiyah) dalam segala aktifitas kehidupannya.
Selanjutnya ketiga hal di atas diperas menjadi motto PPMI Assalaam, yakni 1) Spiritual – Rohani,(الروحية ), 2) Intelektual – Ilmu ( العقلية ), 3) Moral – Akhlak ( الخلقية ) (sumber dikopi dari sekretariat)
Nama Assalaam memiliki arti tersendiri bagi PPMI Assalaam. Nama “Assalaam” dipilih mengingat cakupan maknanya yang selaras untuk menggambarkan kelembagaan agama yang sehat dan berorientasi ke depan. Kata ini diambil dari bahasa Arab yang berarti damai. Sikap damai ini dikembangkan dalam empat bentuk: pertama, damai dengan pemerintah yang diistilahkan “tâ`ah” hal ini dilandasi firman Allah ayat 59 surat al nisâ’. Kedua, damai dengan sesama umat Islam yang dinamakan “ukhuwwah”, pengertian ini didasarakan pada ayat 11 surat al Hujurât. Ketiga, damai dengan masyarakat umumnya yang dinamakan “ta`âruf”, didasarkan pada ayat 12 surat al Hujurât. Dan keempat adalah damai dengan pemeluk agama lain, yang disebut “birr” dan “qiyâm bi al qist” hal ini disimpulkan dari ayat 8 surat al Mumtahanah. Berdasarkan landasan filosofis makna Assalaam tersebut, bisa dilihat bahwa PPMI Assalaam sangat berorientasi pada kepedulian terhadap masalah-masalah keumatan, dan manusia pada umumnya.
3. Masyarakat dan pengelola pesantren
Pada bab sebelumnya telah disinggung bahwa pesantren merupakan sub kultur dari masyarakat, di sini akan digambarkan bagaimana masyarakat pesantren tersebut. Masyarakat dalam arti sebagai sebuah organisasi dari orang-orang yang diikat oleh kesamaan-kesamaan untuk hidup bersama, maka di pesantren terdapat berbagai kelompok individu yang secara sukarela meleburkan diri kepada kesepakatan kelompok yang lebih besar yakni masyarakat pesantren, untuk hidup bersama-sama. Kelompok ini terlibat usaha aktif mendinamiskan kehidupan pesantren sehingga memberikan ciri khas bagai masyarakat pesantren. Ada sekelompok lain yang bisa jadi tidak secara langsung sebagai bagian PPMI Assalaam, tapi secara fisik berada di PPMI Assalaam, yakni keluarga dari istri atau suami yang bekerja di PPMI Asslaam dan mereka tinggal di dalam lingkungan PPMI Assalaam. Berikut ini penjelasan singkat mengenai hal ini.
a. Yayasan
Sebagaimana disinggung di awal, bahwa PPMI Assalaam dimulai dari pengajian yang diselenggarakan dan disokong oleh keluarga pasangan pengusaha Abdullah Marzuki dan istrinya Siti Aminah Abdullah. Mengingat perkembangan yang pesat dan didorong untuk ikut memperbaiki pendidikan umat, maka atas inisiatif H. Abdulah Marzuki dibentuklah yayasan yang akan menjadikan kelompok pengajian ini sebagai lembaga sosial kegamaan yang terorgansisir secara lebih baik dan intensif. Berdasar akta notaris yang dibuat tanggal 23 september 1979 maka berdirilah Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta yang lebih dikenal dengan yayasan MPI. Berbagai kegiatan sosial yang diselenggarakan saat itu adalah kursus bahasa Arab, poliklinik, pemeliharaan anak fakir meskipunn dan pengajian-pengajian umum.
Bidang pendidikan yang dikembangkan saat itu adalah pembentukan madrasah diniyah yang merupakan cikal bakal pembentukan PPMI Assalaam.
b. Pesantren (pimpinan, guru, karyawan)
Pesantren sebagai sebuah lembaga organisasi, ia memiliki seorang figur pimpinan yang mengelola pesantren, di samping orang-orang yang membantu pimpinan ini. Di PPMI Assalaam, pimpinan yang memegang kendali jalannya organisasi pesantren adalah direktur dibantu dua orang wakil direktur I dan wakil direktur II. Masing –masing membidangi masalah kependidikan dan kepegawaian. Setingkat dengan level direktur adalah Dewan Kiyai, yang beranggotakan seorang ketua dan tiga orang anggota serta sekretaris dewan kiyai. Secara singkat, bidang garapan direktur adalah masalah administrasi pesantren sedangkan dewan kiyai lebih pada pembinaan santri atau kepesantrenan.
Di bawah level direktur terdapat kepala-kepala unit sekolah maupun kesantrian dan kabag-kabag kepegawaian dan umum. Hingga ke bawah sampai pada kepala seksi. Ini semua adalah level pejabat struktural pesantren.
Di sisi lain terdapat pegawai non pejabat struktural baik sebagai tenaga pengasuh, ustadz dan ustadzah, karyawan baik karyawan tata usaha, karyawan kebersihan, karyawan dapur, karyawan perbaikan dan seterusnya.
c. Santri
Musafir pencari ilmu, kelompok ini datang dari berbagai pelosok tanah air. Mereka datang ke PPMI Assalaam untuk mencari ilmu dalam pengertiannya yang luas, bukan sekedar ilmu yang hanya didapat di bangku sekolah, tapi di pesantren mereka belajar mandiri, belajar saling menghargai satu sama lain dengan latar belakang sosial ekonomi, adat dan budaya yang beragam karena memang mereka berasal dari berbagai suku di tanah air. Mereka juga belajar mengatur keuangan sendiri, belajar bertanggung jawab sendiri terhadap miliknya dan milik orang lain, belajar mempertangungjawabkan sendiri terhadap segala perbuatan yang dilakukan baik yang berkaitan dengan saksi maupun reward yang ia terima dari akibat perbuatannnya.
Mereka merupakan kelompok terbesar di PPMI Assalaam. Dengan rentang usia 13 tahun hingga 19 tahun. Dan hidup di pesantren untuk masa tiga tahun atau enam tahun sesuai dengan jenjang pendidikan formalnya, atau bahkan kurang dari masa itu bila karena suatu sebab ia harus keluar dari pesantren.
d. Anggota keluarga dan lainnya.
Dimaksudkan di sini adalah anggota keluarga dari para pegawai PPMI Assalaam. Mereka bisa suami, istri, anak, bapak, ibu, pembantu atau keluarga lainnya yang ikut tinggal bersama keluarga yang bersangkutan di PPMI Assalaam. Mereka tidak terlibat langusng dalam pengelolan pesantren, namun keberadaan mereka menjadikan kehidupan pesantren menjadi utuh sebagai sebuah kelompok masyarakat umunya. Ada semacam organisasi non formal bagi istri-istri pegawai PPMI Assalaam yang sebagaimana umumnya merupakan acara kumpul bersama dalam bentuk arisan.
e. MPP
MPP merupakan perubahan dari BP3. MPP beranggotakan unsur pesantren, wali santri, alumni PPMI Assalaam dan tokoh masyarakat. MMP dibentuk tanggal 12 Oktober 2003 berdasar surat keuputusan Direktur PPMI Assalaam nomor: 219/PPMI.Sk/X/2003. Tujuan dibentuknya majelis ini adalah membantu peningkatan mutu KBM dan kesantrian di PPMI Assalaam. Sebagai ketua umum Majelis Pendidikan Pesantren ini adalah Drs. H. Nasihin SH dari Departemen Diknas Jakarta. (Warta Assalaam, 2003:33)
Masyarakat penghuni pesantren tidaklah semata-mata terdiri dari unsur kiyai (ustadz) dan santri, namun di sana ditemukan juga beberapa lapisan masyarakat lain yang barangkali dalam berbagai pembahasan tentang pesantren jarang disinggung, yakni anggota keluarga (istri/suami, anak, pembantu atau saudara dari kiyai ataupun ustadz. Mereka tidak punya kaitan formal dengan keberlangsungan pesantren namun keberadaanya nyata dalam pesantren. Unsur lainnya yang bisa ditemukan adalah pegawai instansi luar pesantren yang memiliki kantor di pesantren. Contoh dalam hal ini adalah PPMI Assalaam, dimana bank BPD Jateng membuka kantor kasnya di PPMI Assalaam, karyawan bank ini secara formal administratif tidak ada kaitannya dengan PPMI Assalaam, ia terkait dengan bank induknya, namun dalam keseharian turut membantu menjaga nilai-nilai pesantren, paling tidak secara penampilan luar yang putra terkadang memakai peci atau ikut berjama’ah shalat dengan warga pesantren lainnya, begitu pula karyawatinya dari sisi pakaian lebih menyesuaikan dengan pakaian jilbab yang lazimnya dikenakan warga pesantren, meskipun tidak secara utuh sebagaimana yang dikerjakan warga pesantren.
Selain itu terdapat pula beberapa pedagang yang menyetorkan dan memasok dagangan di kantin PPMI Assalaam. Mereka inipun umumnya juga menyesuaikan dengan tradisi pesantren utamanya dalam berpakaian.
Gambaran di atas memberikan deskripsi umum mengenai unsur-unsur yang membentuk masyarakat pesantren. Kesemuannya menyatu, bekerja sesuai dengan kapasitas dan tempatnya sendiri-sendiri tapi saling menyokong bagi keseluruhan dan tegaknya masyarakat pesantren PPMI Assalaam.
4. Pelapisan Sosial Masyarakat PPMI Assalaam
a. Pejabat-Non Pejabat
Sebuah konsekuensi logis dari organisasi atau managemen modern, maka di PPMI Assalaam dapat ditemukan adanya lapisan pejabat dan non pejabat. Pejabat di lingkungan PPMI Assalaam untuk tingkat pimpinan di sebut direktur sehingga menjadi direktur PPMI Assalaam, dan wakilnya di istilahkan dengan wadir (wakil direktur). Ada dua wadir yang diterapkan yakni wadir satu yang secara umum membidani bidang pendidikan dan wadir dua yang membawahi bidang personalia atau SDM. Untuk jabatan ini dari level direktur hingga level kasi atau kasubsi. Untuk lebih detail dapat dilihat pada pembahasan mengenai struktur organisai PPMI Assalaam.
Ada semacam prevelige yang diberikan berkaitan dengan jabatan ini, yakni tunjungan jabatan dan insentif lainnya yang nominalnya disesuaikan dengan level jabatannya dan juga jatah perumahan pejabat, serta memakai fasilitas lainnya sesuai dengan fungsi jabatannya. Meskipunpun tentu saja ada tugas-tugas yang harus ditunaikan sesuai job descriptionnya, dan untuk dinilai setiap tahunnya.
Satu hal yang barangkali nampak adalah lekatnya unsur jabatan dalam hubungan keseharian, sebagaimana diketahui bahwa dinamika kehidupan pesantren hampir bisa dikatakan merupakan sebuah kehidupan duapuluh empat penuh tanpa jeda. (bisa dilihat dari jadual kegiatan kehidupan dalam keseharian). Juga dalam tatakerja umum struktur organisasi. Dalam bincang-bincang keseharian antar warga pesantren maka nampak jelas perbedaan antar jabatan itu. Misalnya rasa sungkan pejabat yang lebih rendah terhadap pejabat yang lebih tinggi, rasa selalu saling disorot atar pejabat yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah atau yang sebaliknya. Disadari atau tidak seringkali hal ini mengurangi privasi individu-individu bersangkutan.
b. Santri – Pengasuh
Pelapisan lainnya adalah antara santri dengan ustadz. Di PPMI Assalaam ada beberapa istilah yang dikemukakan sehubungan dengan hal ini. Yang lazim dipergunakan dalam keseharian adalah sebutan santriwan dan santriwati, sedangkan sebutan siswa siswi atau murid lazim dipergunakan dalam urusan sekolah formal. Begitu pula panggilan ustadz dan ustadzah yang merupakan panggilan keseharian bagi guru pesantren, tanpa membedakan jabatan apakah ia seseorang kiyai (kiyai lebih merupakan sebutan jabatan seperti halnya direktur, daripada sebutan sebagaimana halnya sebutan ustadz), direktur atau lainnya . Bahkan untuk karyawan sekalipun seringkali dipanggil dengan sebutan ustadz atau ustadzah. Disamping secara teknis ada beberapa sebutan untuk uztadz dan ustadzah ini terutama terkait dengan tugasnya terhadap santri. Ada perbedaan istilah untuk menyebut mereka dalam keterlibatannya terhadap santri. Istilah ustadz/ustadzah hanyalah menyangkut pada tugas mendidik santri dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan pengasuh memiliki tugas membimbing,mendidik, mengajar dan atau melatih santri baik di luar maupun di dalam jam kegiatan belajar mengajar. Istilah pengasuh lebih memiliki makna yang luas dibanding pengertian ustadz. Namun dalam keseharian mereka semua dipanggil dengan ustadz atau ustadzah. (lih tibsar bab pendahuluan)
c. Guru – Karyawan
Selanjutnya adalah pembedaan antara guru dan karyawan. Dalam administrasi kepegawaian ada beberapa istilah teknis untuk membedakan person-person yag terlibat dalam organisasi pesantren. Ada guru tetap dan guru tidak tetap (GT dan GTT) ada pula karyawan tetap dan karyawan tidak tetap, karyawan harian, bahkan guru atau karyawan kontrak. Sebagai guru ia mempunyai tugas sebagaimana disebutkan di atas. Adapun karyawan sesuai dengan bidangnya ia lebih dituntut untuk memberikan pelayanan kepada santri menyangkut hal-hal fisik meliputi kelancaran sarana dan prasana proses pendidikan di pesantren.
d. Santri Senior – Santri Yunior
Untuk santri kelas VI yang merupakan kelas tiga sekolah (SMU dan MA), mereka dibebaskan dari kewajiban berorganisasi di bawah naungan OPPPMI Assalaam. Dan diharapkan lebih berkonsentrasi pada persiapan menempuh ujian akhir baik nasional maupun kepondokan. sedangkan untuk kelas dibawahnya mereka diharuskan terlibat dalam kegiatan organisasi pelajar ini baik sebagai pengurus maupun anggota. Keterlibatan dalam organisasi pelajar bisa menjadi pengurus organisasi atau menjadi misalnya, mulahid dalam kegiatan muhadhoroh, dengan membina adik-adik kelasnya berlatih retorika (Karnisa, edisi 33, hal:79)
5. Struktur organisai
Sejak tahun 2000, hingga penelitian ini, PPMI Assalaam telah mengalami tiga kali pergantian pejabat. Praktis jabatan hanya dipegang berkisar antara satu hingga satu setengah tahun. Ini semua dilandasi oleh semangat untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih bagus kepada masyarakat. Struktur organisasi secara lengkap dapat dilihat dilampiran.
6. Sistem pengajaran agama
a. Pendidikan Formal
Ada dua metode pengajaran di pesantren selama ini berkembang, khususnya di pesantren salaf yakni metode bandongan dan metode sorogan. Zamakhsari Dhofier (1994:28-29) menjelaskan bahwa sistem sorogan merupakan sistem pengajaran yang paling awal diperkenalkan kepada para santri, sistem ini menuntut adanya ketekunan, kesabaran dan ketaatan serta disiplin yang tinggi dari santri. Sistem ini lebih bersifat bimbingan individual, sehingga guru dapat memberikan evaluasi dan bimbingan maksimal terhadap santri. Mengingat ini maka sistem sorogan menjadi semacam prasyarat bagi santri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi artinya, ia akan banyak memperoleh manfaat pada sistem pengajaran selanjutnya yakni sistem bandongan, bila ia telah berhasil baik menyelesaikan sistem sorogan.
Sistem kedua adalah bandongan. Masih menurut Dhofier, bahwa sistem ini merupakan sistem pengajaran utama di pesantren, yang diikuti antara 5 hingga 500 santri yang mendengarkan guru membacakan, menterjemahkan dan mengulas kitab-kitab yang ditulis dengan bahasa Arab. Santri memperhatikan kitabnya sendiri dengan memberi syakal atau tanda baca dan juga arti serta ulasan seperti yang dituturkan sang guru. Dalam sistem ini ada halaqah yang merupakan kelompok kelas diskusi dalam sistem bandongan.
Selanjutnya Dhofier (1994: 31) menyebutkan satu sistem pengajaran lagi yakni kelas musyawarah, yang diikuti oleh murid senior, dimana kiayi hanya menentukan untuk mempelajari kitab-kitab tertentu kemudian mendiskusikannya dengan kiyai.
Dalam perjalanannya, barangkali pesantren yang pertama mulai mengenalkan sistem tutorial atau klasikal adalah pesantren Tebuireng Jombang, bahkan kiayi Wahid Hasyim menyarankan untuk mengganti sistem bandongan dengan sistem tutorial, mengingat sistem bandongan sudah tidak efektif lagi untuk pengajaran, di mana santri sekarang pada umumnya tidaklah bermaksud secara sungguh-sungguh untuk mendalami ilmu agama atau bahasa Arab, maka bagi mereka cukup memadai untuk diajar ilmu-ilmu agama dalam bahasa indonesia selebihnya diberikan ketrampilan praktis dan berbagai pengetahuan lainnya. Hanya sebagain kecil santri saja yang perlu diajar kitab-kitab bahasa arab yang mememang mencitakan menjadi ulama’. Namun usul ini tidak disetujui langsung karena akan menimbulkan gejolak antara pengurus. Namun pendirian madrasah Nidhomiyah yang memuat 70 persen kurikulum umum disetujui oleh hadratus syekh Hasyim Asy’ari. Demikian Dhofier ( 1994:105). Yang utama adalah baik sorogan maupun bandongan lebih terpusat di masjid.
PPMI Assalaam merupakan pesantren yang menerapkan sistem klasikal dalam pengajarannya. Sebelum masuk pada uraian mengenai metode pembelajaran, berikut ini disajikan terlebih dahulu empat madrasah yang diselenggarakan oleh PPMI Assalaam. Pertama adalah madrasah Tsanawiyah Assalaam (Mts Assalaam). Jenjang ini merupakan jenjang kelanjutan dari jenjang pendidikan dasar (SD/MI) yang setingkat dengan SMP. Madrasah Tsanawiyah yang pada awalnya mendapatkan Surat Keputusan pengesahan dari Dirjen Bimas Islam tahun 1982 yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 1983. Kemudian memperoleh status disamakan dengan SK. Ka.Kandepag Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1997. Yang memberlakukan kurikulum Departemen Agama dan kepondokan.
Kedua adalah Madrasah Aliyah PPMI Assalaam didirikan pada tahun 1986, hingga sampai saat ini telah meluluskan 10 kali kelulusan yang kesemuanya lulus seratus prosen. Kurikulumnya merupakan perpaduan kurikulum departemen agama dan kepondokan serta mendapatkan sertifikat mu’adalah dari unversitas al Azhar Kairo. Madrasah Aliyah PPMI Assalaam mendapatkan status disamakan dengan SK.Dirjen Binbaga Islam tanggal 1 Juli 1996 no. 69/E.VI/PP.03.2/Kep/VII/96. Kendala umum yang dihadapi oleh Madrasah Aliyah adalah persepsi sebagian wali santri yang memandang bahwa lulusan Madrasah Aliyah akan mendapatkan hambatan dalam karir atau studi ke depan.
Ketiga, Madrasah Takhsahshsushiyah, pada tahun 1987 PPMI Assalaam membuka Madrasah Takhashshushiyah yang disingkat menjadi TKs. Ini merupakan kelas persiapan memasuki jenjang Madrasah Aliyah atau SMA bagi santri yang berasal dari SMP luar PPMI Assalaam. Lama belajar adalah satu tahun. Dengan persiapan satu tahun, santri TKs akan dapat menyesuaikan diri dengan santri lulusan MTs PPMI Assalaam pada tingkat Madrasah Aliyah dan SMU utamanya berkaitan dengan pelajaran bahasa Arab dan Inggris serta pelajaran agama.
Keempat, SMU (Sekolah Menengah Umum) SMU Assalaam didirikan beberapa tahun setelah mendirikan MA PPMI Assalaam yakni pada tahun 1989, dan sampai saat ini telah meluluskan 8 kali kelulusan yang kesemuanya lulus 100 % dan telah mendapatkan SK pengesahan dari Kanwil P dan K No. 882/103/89 tanggal 9 Mei 1989. Dan kini SMU Assalaam telah memperoleh status Disamakan dengan SK Dirjen Dikdasmen Nomor : 35/C.C7/Kep/MH/1998. Kurikulum SMU merupakan perpaduan dari kurikulum pendidikan nasional dan kurikulum kepondokan. Struktur kurikulumnya dapat dilihat dalam lampiran.
b. Pendidikan non formal
Selain pendidikan formal dalam bentuk klasikal sebagaimana disebutkan di atas, PPMI Assalaam juga menyelenggarakan pendidikan non formal. Pendidikan ini diselenggarakan oleh kepala bidang kesantrian putra dan kepala bidang kesantrian putri. Pembagian waktu dengan pendidikan formal adalah sekolah dimulai jam 07.00 hingga 13.10, maka di luar jam tersebut merupakan wilayah waktu kepala bidang kesantrian baik sebelum sekolah maupun selepas sekolah. Bentuk pendidikan yang diselenggarakan lebih menitikberatkan pada aspek pembinaan perilaku, kebahasaaan, keterampilan, keorganisasian dan masalah-masalah keseharian yang mungkin muncul di kalangan santri.
c. Buku (kitab)
Yang agak berbeda adalah penyebutan kitab. Di PPMI Assalaam, pada umumnya tidaklah lazim menyebut istilah kitab yang mengacu pada buku-buku kegamaan yang ditulis dalam bahasa Arab. Penggunaan istilah ini dalam keseharian sangatlah jarang. Lebih khusus bagi PPMI Assalaam, istilah kitab barangkali lebih dimaksukan untuk menyebut materi pelajaran yakni Baca Kitab, dengan mengacu pada sisi kitab agama dan bahasa arabnya, ketimbang keseluruhan dari bentuk maupun isi kitab. Maka dalam hal ini tidak ada kitab khusus yang dipelajari di PPMI Assalaam. Dalam pelajaran baca kitab ini dipergunakan juga ringkasan dari tafsir modern yakni tafsîr âyât ahkâm karya Muhammad `Ali al Sabûniy yang diringkas menjadi satu buku kecil dengan mengambil beberapa ayatnya. Kemudian dicetak dan diajarkan di kelas-kelas, khususnya kelas I dan II unit SMU dan kelas III SMU maupun Madrasah Aliyah. Sedangkan untuk kelas satu dan dua Madrasah Aliyah mengajarkan kitab Bidâyah al Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, setelah sebelumnya menggunakan Kifâyah al Akhyâr. Sedangkan untuk pelajaran usûl al fiqh, meskipun ditulis dengan bahasa Arab dan berkaitan dengan ilmu kegamaan tidaklah lazim dinamakan kitab, cukup disebut sebagai buku. Atau misal lain, kitab ulumul qur’an yang nyata ditulis dengan bahasa Arab dan berisi ilmu agama, cukup disebut dengan buku. Penyebutan kitab lebih dikhususkan untuk pelajaran baca kitab. Kajian terhadap kitab hadits Riyâd al sâlihîn maupun Ihyâ `ulûm al dîn, misalnya, diperkenalkan dengan istilah halaqah Riyâd al sâlihîn atau halaqah Ihyâ `ulûm al dîn. (lihat dokumen jadual kajian keislaman, sistem halaqah yang dilaunching oleh ka UPT kesantriyan tahun 2003/2004 tanggal 8 Februari 2004).

d. Metode Pengajaran
Yang umum dilaksanakan oleh PPMI Assalaam adalah metode klasikal, artinya pembelajaran kitab dilakukan di dalam kelas terjadual dengan pelajaran-pelajaranlain, diberikan antara satu dan dua jam yatamnya satu jam, di mana tiap jam pelajaran berlangsung selama 45 menit. Metode ini mirip dengan bandongan, hanya saja dilaksanakan di dalam kelas, pertama guru membacakan kitab yang diajarkan, sambil menterjemahkannya kata-perkata dan memberikan terjemahan bebas sembari memberikan ulasan mengenai isi kitab, santri mendengarkan sambil memberi harakat dan memberi catatan arti di sela-sela tulisan Arab yang ada dalam kitab. Satu rombongan kelas berkisar antara 20 hingga 40 santri. Kemudian diadakan evaluasi harian dengan memerintahkan santri pada pelajaran hari berikutnya untuk mengulang membaca dan menterjemahkan sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya. Pelajaran ini diberikan antara pukul 07.00 hingga 13.10 sesuai dengan jadual pelajaran yang berlaku. Juga diberikan evaluasi harian (ulangan harian) dan ulangan semesteran.
Metode ini juga diterapkan di kelompok-kelompok sistem halaqah yang mengambil tempat di masjid.
e. Pengelompokan Mapel Agama
PPMI Assalaam mengelompokkan mata pelajaran keagamaan ke dalam dua kelompok besar yakni departemen agama dan pondok. Untuk materi departemen agama adalah al qur’an hadits, fiqih, akidah akhlak, dan Sejarah kebudayaan Islam (SKI) ini berlaku untuk Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, sedangkan madrasah takhashushiyah sepenuhnya mendasarkan pada kurikulum pondok. Sedangkan untuk SMU meskipunpun ada pelajaran PAI namun pelajaran ini tidak diajarkan dan digantikan dengan pelajaran keagamaan kurikulum kepondokan.
Mapel kepondokan untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah meliputi: qirâ’ah al qur’ân, tahfîz, mata pelajaran yang diujikan secara lisan adalah qirâ’ah al qur’ân, tahfîz, tajwîd, fiqih syari’ah, ibadah amaliyah, dalil dan do’a. (lihat raport MTs). Untuk jenjang Madrasah Aliyah pelajaran keagamaan meliputi: `ulûm al qur’an, `ulûm al hadits, ushul fiqih, baca kitab, tahfîz, dan aqidah untuk kelas tiga. Mata pelajaran yang diujikan lisan untuk kegamaan adalah tarjamah al qur’an, bacaan al Qur’an, tajwîd, hapalan al Qur’an. Fiqih syari’ah, fiqih ibadah dalil do’a dan baca kitab (lihat raport kepondokan madrasah aliyah) Adapun untuk SMU mata pelajaran keagamaan mencakup aqidah, tahfîz al Qur’an, ushul fiqih, baca kitab, untuk mata pelajar PAI diambilkan nilai baca kitab dan akidah.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Tesis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s