Bab : Kesimpulan

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bab-bab terdahulu menguraikan pembahasan-pembahasan mengenai praktek keberagamaan di pesantren khususnya di PPMI Assalaam. Berikut ini disajikan apa yang menjadi kesimpulan penelitian mengenai hasil penelitian dari praktek keberagamaan tersebut.
Dari data-data yang disajikan di muka dapat ditarik kesimpulan berikut:
1. Praktek keberagamaan yang nampak adalah sebagai berikut :
a. Praktek keagamaan yang merupakan ibadah inti. Ini tercakup dalam lima rukun Islam yang masih terus dijalankan, ditambah dengan praktek keagamaan terhadap tek-teks atau bacaan-bacaan suci. Kedua macam praktek keagamaan ini tidak terlepas dari dimensi ruang dan waktu suci (sacred space and sacred time).
b. Berkenaan dengan ritual siklus kehidupan didapati bentuk-bentuk praktek keagamaan berupa : upacara kelahiran, aqiqah, pemberian nama kepada bayi, khitan, akil baligh, ulang tahun, perkawinan dan kematian.
c. Berkaitan dengan aspek ketaatan ada praktek keagamaan yang berbentuk : kegiatan kajian, halaqah, pengajian malam Rabu, do’a, dzikir, berseni. Semuanya menjadi kegiatan rutin yang terus dilaksanakan dan diperbanyak untuk menjaga komitmen keberagamaan.
Praktek keberagamaan ini lebih distandarkan dan diberikan aturan-aturan maupun sanksi yang dikenakan terhadap pelanggar. Praktek keagamaan ini dikelola dengan administratif yang bagus. Ditunjukkan dengan berbagai jadual dan kalender praktek keagamaan yang disusun oleh PPMI Assalaam. Praktek keberagamaan yang dijalankan lebih berorientasi syari’ah sentris dan hampir tidak ditemukan praktek spiritual lazimnya pesantren salaf yang penuh dengan nuansa mistis. Namun nuansa agama tetap begitu kental tergambar dalam perilaku sehari-hari. Betapa perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya dijeda dengan ibadah dan dihadapkan langsung dengan praktek beragama.
2. Beberapa makna praktek keagamaan yang dialami PPMI Assalaam diantaranya terlihat pada :
a. Pencapian tujuan pendidikan. Maka kadang didapati praktek keagamaan yang secara fiqih normatif bertentangan, tapi dipraktekkan, misalnya anjuran berqurban secara iuran perkelas.
b. Ketekunan dan kerajinan untuk melaksanakan ritual sebagaimana yang diharuskan oleh pesantren juga menjadi tolok ukur ketaatan atau kenakalan seorang santri.
c. Untuk menjaga ciri khas santri, maka perlengkapan shalat, utamanya sarung dan peci masih tetap dipertahankan dalam waktu shalat-shalat tertentu.
d. Ritual semata memang dilaksanakan demi ritual itu sendiri. Tidaklah menjadi perhatian serius, ketika santri ke masjid itu dengan kesadaran penuh untuk melaksanakan ibadah shalat sebagai bentuk penyembahan kepada Allah atau tidak. Artinya ada atau tidak ada kesadaran penuh akan dzat Allah ketika shalat tidaklah menjadi perhatian utama, yang utama adalah menunaikan shalat, dan ketika tertunaikan hati menjadi lega.
e. Detail praktek keagamaan lebih menghargai keragaman individu dari pada memelihara keharmonisan kelompok. Ini terlihat dari beragamnya cara menunaikan ritual. Misalnya shalat, dari cara bersedekap bisa dilihat keragaman ini. Juga mengangkat tangan atau tidaknya ketika seseorang berdo’a. Tapi bahwa semua ritual harus dikerjakan, merupakan sesuatu yang disepakati bersama dan diyakini kebenarannya serta dicela atau berdosa bila tidak mengerjakannya
3. Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ritual, baik benda seperti : pakaian ibadah, bangunan masjid, kitab suci, orang suci, kitab agama, (tidak termasuk sorban, sajadah dan tasbih, bedug), maupun ruang dan waktu serta perbuatan, kesemuanya dianggap sakral sebatas pada perilaku atau praktek keberagamaan, diluar itu, semuanya dianggap sebagai benda biasa, dan diperlakukan sewajarnya. Sebagai contoh, gamis bagi santri PPMI Assalaam bukan hanya sekedar baju keseharian, ia dikenakan khusus ketika melakukan shalat (jum’at), ini saja sudah mencerminkan dimensi sakralitas. Maka sakral atau tidak, tergantung pada makna yang diberikan. Makna ini bisa dilihat utamanya ketika dikaitkan dengan konsep sacred space dan sacred time, seperti contoh di atas. Contoh lain, sarung misalnya, bila diberikan makna sebagai perlengkapan ibadah yang harus dikenakan, bila tidak mengenakan pada waktu ibadah tersebut seseorang akan merasa tidak afdhal, atau merasa kurang bernuansa agamis maka bisa dipastikan bahwa sarung tersebut memiliki dimensi sakral. Lain halnya bisa sarung itu diberikan makna sebagai pakaian santai di rumah.
Orientasi waktu didasarkan pada pelaksanaan jadual shalat. Pengumuman dan janji-janji dibuat dalam bentuk ba`da salât Isâ’ tamâman atau ba`da salât magrib fawran. Waktu luang dari suatu kegiatan dipergunakan untuk menyelesaikan kegiatan yang tidak bisa terselesaikan pada waktunya. Maka sesungguhnya tanpa disadari firman Allah yang tercantum dalam surat al `Asr serta suarat al Insyirâh merupakan kenyataan keseharian bisa didapati di pesantren.
Tempat yang paling sakral adalah masjid, ia merupakan pusat ibadah artinya, sebagaimana dituturkan di muka seberapa sering santri berjama’ah sahalat di masjid, maka ia semakin terkenal sebagai orang yang alim, dan shaleh. Kegiatan ibadah tidak bisa dilepaskan dari kontek ruang dan waktu. Masjid merupakan orientasi ruang yang baik. Santri biasanya berharap mendapatkan ketenangan dalam masjid. Pandangan bahwa masjid tempat suci, juga masih dipegangi, namun fungsinya tidak terbatas sebagai tempat sholat atau tempat kiyai memberikan pengajaran. Lebih dari itu, fungsi masjid dikembangkan dan difungsikan secara optimal. Meliputi fungsi keagamaan dan berbagai kegiatan ektra kurikuler. Kesucian masjid tidak membatasi untuk menggunakan secara maksimal.
Mengenai praktek keagamaan tradisonal dan bentuk praktek keagamaan baru dapat disimpulkan bahwa:
a. Praktek keberagamaan tradisional tetap dijalankan dengan polesan dan sentuhan modern akibat pengaruh globalisasi. Sisi kepraktisan dan kenyamanan seringkali menjadi pertimbangan praktek keberagamaan yang dijalankan. Misalnya dalam ritual penyambutan kelahiran bayi atau aqiqah.
b. Praktek keberagamaan baru sesungguhnya muncul dari “penolakan” tradisi praktek keberagamaan sehingga memunculkan praktek keberagamaan baru. Misalnya membuat rangkaian kegiatan ritual puasa dengan praktek buka bersama lengkap dengan tawsiyah dari kiyai, santapan kolak dan makan malam, pembagian THR hingga penerimaan zakat fitrah atau mal. Kegiatan I’tikaf , pesantren ramadhan, pendistribusian zakat, dilanjutkan dengan penyambutan Idul Fitri (pencari khatib, mencetak materi khutbah, penyiapan lapangan dan perlengkapan shalat Id, pengedaran kotak amal) hingga halal bil halal atau silaturahmi ke rumah ustadz yang dituakan selepas shalat Id.
c. Penolakan terhadap unsur baru baik dari lokal maupun asing masih sebatas retorika, bagaimanapun sesungguhnya sulit untuk melepasksn diri dari pengaruh asing. Penolakan terhadap budaya valentine. misalnya justru dengan membuat semacam selebaran yang disadari atau tidak mencitrakan nuansa valentine juga, misalnya dengan warna pink selabaran. Dan membuat sejarah valentine yang sesungguhnya dimaksudkan agar dengan tahu sejarah yang dikesankan bertentangan dengan akidah Islam, santri menghindari perayaan valentine, justru membuat model atau terjerumus pada perayaan valentine gaya baru.
d. Penggunaan kiyai diambil semata gelar dan dimensi “ketuaan” dari kiyai. Dengan meninggalkan makna budaya yang melekat di istilah kiyai. Maka penghormatan yang diberikan terhadap kiyai, tidak lebih karena kiyai dianggap sebagai yang lebih tua dan juga karena kiyai merupakan jabatan struktural dan profesi sebagaimana guru dan dokter. Tidak ada unsur magis dan keramat pada diri seorang kiyai. Santri tidak merasa perlu untuk mencium tangan kiyai, yang dianggap tidak memiliki nilai barakah. Ia juga bukan sumber segala bagi tatanan nilai pesantren. Anak seorang kiyai juga tidak di panggil dengan sebutan Gus. Cukup dipanggil dengan “kak” atau “ustadz”. Lebih egaliter memang, dibanding dengan menyebut Gus.
e. Pengetahuan keagamaan tidak semata harus bersumber pada kiyai atau kitab-kitab kuning. Lebih dari itu berbagai sumber dapat dipergunakan sebagai rujukan mempraktekkan agama. Penggunaan perangkat modern dan program komputer untuk memahami teks al Qur’an dan hadits banyak dipergunakan. Maka bisa dilihat hampir seluruh komputer di PPMI Assalaam berbasis program Arabic Enabled. Tapi secara manual penelusuran ayat al Qur’an dan hadits lewat buku tetap diajarkan.
f. Bentuk-bentuk kesenian tidak terbatas pada barzanzi atau dzibaan, perkembangan seni modern semisal nasyid, paduan suara dan acapela, juga berkembang. Penggunaan alat malâhiy tidak terbatas pada rebana, bahkan peralatan drum juga dipergunakan.
B. Saran-saran
Sebagai akhir tulisan ini ada tiga poin yang dikedepankan, pertama, perlu kiranya menemukan formulasi yang dapat mengintegrasikan ritual fiqih sentris dengan sistem mistik Islam sehingga tercapai aspek dimensi lahir dan dimensi batin Islam. Dimana keduanya seringkali dimenangkalahkan satu sama lain dan berujung pada saling menjatuhkan antar praktikan keagamaan masing-masing pihak.
Kedua, merumuskan kaidah “mempertahankan yang baik dan mengambil yang lebih baik” secara lebih konkret sehingga bisa mendapatkan bahwa penjagaan tradisi dan pengembangannya serta pengambilan hal baru perlu sama-sama memperhatikan perkembangan kebutuhan yang wajar dari pelaku dan perlu melihat kontinuitasnya. Sehingga tidak terjadi stagnasi kebaikan. Tidak semata sesuatu itu baik kemudian dipertahankan, tapi perlu melihat mengapa harus dipertahankan, sehingga memudahkan arah dalam membuat pengembangannya. Begitu pula pengambilan hal baru tidak sekedar tambal sulam kebaikan yang bisa jadi tidak match dengan sistem kebaikan yang berlaku sebelumnya yang ujungnya justru mendatangkan kegoncangan. Saran kebijakan bagi lembaga
Ketiga, penelitian lanjutan mengenai berbagai dimensi keberagamaan sangat dibutuhkan untuk bisa memberikan gambaran utuh perjalanan kehidupan keberagamaan di pesantren. Karena selama ini beberapa penelitian tentang pesantren lebih fokus pada bidang pendidikan pesantren dan kurang menyentuh aspek kebergamaannya, padahal ketertarikan masyarakat pada pesantren adalah pada dimensi kebergamaannya yang dalam jangka tertentu akan membentuk manusia yang memiliki keseimbangan dalam dirinya.
Tulisan ini , tentu saja masih jauh dari bobot sempurna, walupun demikian penulis tetap berharap semoga tulisan ini apapun adanya dapat memberikan sumbangsihnya, maka kritik dan saran dari para pembaca, sangat diharapkan dan dibutuhkan demi lebih sempurnanya untuk masa-masa mendatang. Wa llâhu a`lam bi sawwâb.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Tesis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s