Seremonial dan Ritual

Suatu ritual memiliki dimensi seremonial atau sebaliknya seremonial seringkali juga memiliki dimensi ritual. Seremonial lebih menekankan pada sisi pengaruh budaya lokal, tidak terkait langsung dengan yang transenden, bersifat tambahan dari yang normatif/murni ritual. Karenanya perlu diingat pula bahwa konsep seremonial seringkali dipergunakan untuk menyebut seperangkat kegiatan yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang dianggap spektakuler, atau masa-masa yang dianggap agung. Seremonial lebih merupakan seperangkat tindakan yang ditentukan dan dikaitkan dengan praktik ritual. Yang menjadi kesulitan adalah barangkali membedakan mana sisi ritual murni dan sisi seremonialnya. Tapi dengan meminjam “pengetahuan local” dari Geertz akan ditemukan sisi seremonial dan ritualnya. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang makna yang diberikan oleh orang yang mengerjakannya.
Sebagai contoh dalam ritual menyambut kelahiran bayi, mulai perawatan ari-ari bayi dengan segala variasinya, penamaan dan pencukuran rambut di hari ketujuh bayi juga dengan segala variasinya, penyembelihan kambing di hari ketujuh bayi hingga pendistribusian daging kambing, semua ini bila dilihat dengan memakai konsep seremonial dan ritual, maka akan bisa dilihat mana yang murni ritual dan seremonial. Penyembelihan kambing yang memiliki kriteria tertentu yang dimaksudkan untuk melaksanakan ajaran Allah, bisa disebut sebagai ritual, tapi teknis penyembelihan yang dilakukan dan pembagian daging merupakan sisi seremonial.
Contoh lain, dalam ritual pernikahan, yang merupakan unsur ritual adalah ikrar ijab qabul selebihnya merupakan seremonial semata yang berdasar pada pertimbangan kepatutan dan kepantasan hidup bermasyarakat. Detail dari ritual pernikahan ini, misalnya pilihan bahasa yang digunakan dalam ikrar ijab qabul, pakaian yang dikenakan saat ijab qabul, hadirin dan saksi yang diundang, tempat yang digunakan, fasilitas atau perangkat, dekorasi yang khas Jawa, pemilihan mahar, dan seterusnya bisa disebut sebagai unsur seremonial.
Seremonial inagurasi dan wisuda, bisa jadi di dalamnya banyak dimasukkan simbol-simbol ritual dari akhir acara hingga akhir acara. Misalnya acara pembacaan kalam Ilahi, harapan kelancaran acara, hingga pembacaan do’a.
Pendekatan normatif atau fiqih terhadap praktek seremonial bisa menjadi ajang perdebatan terkait dengan apa yang disebut dengan bid’ah. Hanya saja dalam studi sosiologi-antroplogi hal tersebut tidaklah menjadi perhatian serius, karena sosiologi memusatkan perhatiannya pada bagaimana agama dan masyarakat saling mempengaruhi, bagaimana agama dipraktekkan, bagaimana makna agama bagi suatu masyarakat, bagaimana perilaku pemeluk suatu agama tertentu, terlepas dari apakah tindakan tersebut sesuai atau tidak benar atau salah dalam perpektif normatif ajaran agama.
Tulisan ini tidak akan mengetengahkan semua sisi seremonial dari ritual Islam, tapi dari sedikit paparan di atas kiranya sudah cukup menggambarkan sisi seremonial dalam suatu ritual tertentu. Sekali lagi seremonial lebih dimasukkan sebagai detail atau bagian dari ritual yang tidak terkait secara langsung dengan yang transenden, tapi ia secara umum diletakkan dalam kerangka ritual yang transenden sehingga seremonial tersebut sedikit banyak terinspirasi atau diberikan kepadanya makna transendensi, dan tidak serta merta terlepas dari nilai transendensi. Hanya cakupannya memang tidak seketat ritual yang memang secara langsung dikaitkan dengan yang transenden.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s