Perilaku Hedonis di Sekitar Kita

PERILAKU HEDONIS DI SEPUTAR KITA

Pendahuluan

Bisa jadi kita mengenal istilah konsumtif, materialis (“matre”), selebritis (dari kata celebrate: merayakan atau pesta) dan beberapa istilah lain yang merujuk pada kesenangan, kemewahan, kemegahan, kegemerlapan, luxurius. Orang, dalam kehidupan dunia ini cenderung untuk memenuhi ambisi hidupnya dengan hal-hal di atas.

Sisi lain kita mengenal istilah kontemplasi, tahannuts, bertapa, uzlah, zuhud, wara, kesemuanya menyiratkan pada sikap suka kesepian dan kesunyian, tinggal di hutan dan di gunung, di gua-gua yang gelap, sendiri. Bertapa mencari ketenangan batin, bangun di tengah malam yang hening untuk bermunajat dengan Sang Pencipta.

Dua kondisi yang berbeda, yang barang kali bermuara pada keinginan yang sama untuk memperoleh kesenangan, ketentraman. Hanya saja yang pertama cenderung pemenuhan kesenangan jasmani sedang yang kedua cenderung untuk mencapai kesenangan batin. Yang pertama biasa dikenal dengan istilah hedonisme.

Hakikat Hedonisme

Manusia sesungguhnya memiliki dua potensi untuk kehidupan hedonis atau asketis, ada dua unsur utama yakni jasmani dan rohani, bagi paham materialisme maka jasmani dan pemenuhan kebutuhannya menjadi sesuatu yang pokok dalam hidup. Sedangkan masalah ruhani bukan sesuatu yang utama bagi paham ini.

Paham yang mengajarkan bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk mencapai kesenangan meraih kemewahan dalam filsafat dikenal dengan istilah Hedonisme. Kata hedonisme diambil dari bahasa Yunani yakni hedone yang berarti kesenangan.

Adalah Democritus (400-300 SM), memandang bahwa memperoleh kesenangan merupakan tujuan utama manusia dalam kehidupan ini. Hidup hanya sekali, tidak ada kehidupan sesudah kematian  dan karenanya kesenangan menjadi ukuran keberhasilan seseorang dan kesenangan itulah yang harus diraih.

Aritiphus (395 SM), yang memandang bahwa satu-satunya yang ingin dicari manusia adalah kesenangan. Oleh karena itu segala cara menjadi sah dilakukan apabila bertujuan mencari kesenangan. Kesenangan didapat langsung oleh panca indera. Orang bijaksana, menurutnya akan selalu mengusahakan kesenangan sebanyak-banyaknya, sebab kesakitan adalah suatu pengalaman yang tidak menyenangkan.

Epicurus (341-270 SM), memang kesenangan tetaplah menjadi sumber norma, tetapi bukan kesenangan jasmani semata-mata, sebab mengejar kesenangan jasmani semata juga akan menimbulkan kepedihan dan kesakitan, maka kesenangan jasmani harus dikendalikan oleh akal. Misalnya terlalu bersenang-senang dengan makan akan menimbulkan berbagai penyakit kolesterol, asam urat, dan penyakit lainnya. Kesenangan berlebihan pada minuman keras akan menimbulkan kerusakan fisik bahkan kematian. Maka kesenangan sejati menurutnya harus bermakna tidak adanya rasa sakit dalam badan dan tidak adanya kesulitan jiwa. Puncak hedonism bagi Epikurus adalah ketenangan jiwa.Kesenangan tertinggi menurutnya adalah kesenangan yang bisa dinikmati dengan  pengendalian diri. Tidak lupa ia mengingatkan, bahwa “Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan”

Jadi, pokok ajaran hedonisme adalah pencapaian kesenangan (pleasure) dan menjauhkan dari rasa sakit (pain), baik kesenangan itu bersifat sementara atau kekal, baik kesenangan itu menyangkut jasmani atau rohani. Namun titik tekan hedonisme adalah paham yang mementingkan pemenuhan kesenangan jasmani.

Ibarat ilmu kriminal, ilmu tentang tindak kejahatan akan menjadi berbahaya bila menjadi pedoman seseorang atau masyarakat untuk berbuat kejahatan, hedonisme sebagai sebuah paham (atau pemahaman akal pikiran) mungkin tidak akan menimbulkan persoalan serius bagi kehidupan, tetapi ketika menjadi worldview atau pandangan hidup seseorang, masyarakat dan bangsa yang mempengaruhi perilaku hidupnya tentu menimbulkan masalah serius bagi kehidupan ini.

Perilaku Hedonis

Epikurien, sebutan bagi mereka yang mengikuti, melaksanakan dan diwarnai oleh paham atau ajaran Epicurus dalam kehidupan sehari-hari. Maka bila ada perilaku yang hanya mengejar kesenangan jasmani semata tanpa mau mengimbangi sisi rohaninya, maka bisa dikatakan ia adalah seorang epikurien.

Apabila paham ini sudah mulai mendominasi pemikiran seseorang, maka bentuk perilakunyapun mengarah pada hedonis ini misalnya paham intertaintment yang mendominasi aktifitas seseorang. Maka ketika seseorang berpakaian berdasar kesenangan nafsu, mengikuti mode, berpakaian bukan karena norma ajaran Allah, tanpa ia sadari telah masuk dalam hedonis ini. Tidaklah penting apakah pakaiannya menutup aurat atau tidak, bahkan telanjang sekalipun tidak menjadi masalah bila hal itu menyenangkan dirinya.

Perilaku merusak tembok, mencorat-coretnya demi kesenangan atau keisengan, ini juga bisa dikatakan akibat pengaruh hedonisme.

Jalan-jalan ke mal, shopping untuk barang-barang konsumtif semata bisa merupakan indikasi bahwa seseorang mengidap hedonisme. Gaming sampai kecanduan karena senangnya sehingga melupakan waktu-waktu emasnya untuk meningkatkan kualitas dirinya atau untuk sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini, maka ini juga mengarah pada perilaku hedonis.

Olah raga adalah sesuatu bagus untuk kesehatan jasmani tetapi bila ia memperuntukkannya agar lebih dapat memenuhi kesenangan jasmaninya, maka ini juga merupakan perilaku hedonis, harusnya semakin sehat jasmaninya ia bisa berbuat banyak untuk kemanusian dan ibadahnya bukan agar lebih dapat menikmati kesenangan jasmaniyah semata, begitu juga dengan musik, lagu dan film.

Relasi pria wanita yang dimata agama merupakan sesuatu yang sakral, yang diperbolehkan dalam ikatan perkawinan yang sah, tetapi bagi kaum hedonis, termasuk pornografi menjadi sesuatu yang dibebaskan karena semata untuk kesenganan jasmaniyah.

Maka yang semata diorentasikan untuk kesengan jasmani dan tidak beranjak dari domain jasmani adalah perilaku hedonis.

Keengganan untuk menanggung derita dan beratnya mencari ilmu, menghapal dan mulazamah ustadz, juga merupakan perilaku hedonis, ia mengindari derita (pain). Keengganan untuk berbagi makanan kepada yang lain, keengganan untuk untuk merawat fasilitas publik misalnya kran wudhu, kebersihan kelas dan kamar, juga cerminan dari perilaku hedonis. Karena dianggap memberatkan dirinya.

Shalat yang dirasakan memberatkan, membaca al qur’an dianggap membebani diri, mengikuti halaqah dianggap membosankan dan menyakitkan, berakhlak dan beretika dianggap membatasi dan mengekang diri, menyusahkan dan bila yang diinginkan adalah menginginkan sikap semau gue,seenaknya sendiri, memperturutkan hawa nafsu, kesenangan dan kepuasan nafsu, bisa jadi ia mengidap penyakit hedonis akut.

Itulah perilaku hedonis, dimana motivasi dan tujuannya hidupnya adalah kesenangan dan menjauhi derita, bukan diorentasikan untuk kemuliaan kemanusiaan.

Menangkal hedonisme

Orang yang dilenakan dan dibutakan oleh kesenangan dan kenikmatan duniawi sehingga melupakan norma-norma kehidupan di dunia dan meninggalkan kehidupan akherat adalah orang yang sangat merugi, begitu dalam pandangan Islam. Hanya, seharusnya orang yang beriman kenikmatan di dunia yang diberikan oleh Allah diorentasikan kepada akherat, kekayaan tidak untuk dipuaskan sebagai biaya pemenuhan nafsu syahwatnya, kecerdasan tidak diperuntukkan semata untuk membangun fasiltas kemaksiyatan. Kekuasaan tidak diorentasikan untuk mendapatkan akses luas bagi kesemena-menaan demi memperturutkan hawa nafsunya. Tuhannya bukan hawa nafsunya.

Agar sedapat mungkin terhindar dari perilakku hedonis maka orang mukmin harus kembali memahami ajarannya untuk apa Allah menciptakan dirinya di dunia ini, dan untuk apa sesungguhnya kenikmatan yang disediakan oleh Allah di dunia bagi dirinya. Maka misalnya dalam surat Ali imran 14-15, mengingatkan bahwa kemewahan dunia merupakan “mata’ ul hayah” kesenangan kehidupan dunia tetapi yang terbaik adalah apa yang di sisi Allah.

Allah juga meningatkan dalam surat Ali Imran 185-186, bahwa kematian pasti akan menjemput manusia dan bahwa kematian bukan akhir segalanya, tetapi ada kehidupan di sesudah kematian yang memperhitungkan perbuatan di dunia ini. Maka kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasannya masing-masing dan harus diingat bahwa kemewahan dunia merupakan sesuatu yang dapat menipu kita dari mempersiapkan kehidupan akherat.

Masih dalam surat yang sama yakni Ali imran 197-198, yang mengajarkan bahwa harus disadari benar betapapun banyaknya kesenangan yang didapat di dunia ini, sesungguhnya hal itu merupakan kesenangan yang sangat sedikit dibanding kesenangan di akherat kelak.

Inilah beberapa poin terkait dengan hedonisme yang memang akan sangat mudah melenakan manusia dari jalan Allah, wal ‘iyadhu billah semoga dijauhkan dari perilaku ini.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s