ISME SEBAGAI IDEOLOGI DAN TOOL OF ANALYSIS

ISME SEBAGAI IDEOLOGI DAN TOOL OF ANALYSIS

Hampir setiap kelompok manusia dipersatukan oleh satu paham tertentu, paham kepentingan bersama yang menyatukan kelompok tersebut. Paham bersama ini biasa disebut dengan istilah isme, misalnya kapitalisme, materialisme, sosialisme, komunisme, marxisme, darwinisme, tapi tidak semua paham yang dikembangkan kemudian diikuti penganutnya disebut dengan isme tadi. Bangsa-bangsa di dunia ini, semua memiliki paham kebangsaannya masing-masing yang kemudian mengikat bersama menjadi bangsa tertentu, misalnya bangsa Indoneisa dengan paham pancasilanya.

Terkait dengan isme ini, ada tiga hal masalah hubungannya dengan masyarakat. Pertama: isme sebagai sebuah ideology, kedua: isme sebagai tool of analysis, ketiga: isme sebagai alat kekuasaan. Berbicara ideology, isme bisa dipandang sebagai sebuah paham bersama yang disepakati oelh suatu bangsa atau masyarakat sebagai pembentuk dan pemersatu masyarakat atau bangsa tersebut untuk membentuk kelompok tersendiri yang dipersatukan oleh kepentingan bersama dalam ideology tersebut. Dalam hal ini, maka ideology menjadi alat pemersatu, sehingga ketika ada yang tidak setuju dengan ideology ini maka tentu saja seseorang bisa keluar dari kelompoknya. Bahkan dengan ideology muncul adagium right or wrong is my country, pejah gesang nderek…….??? Atau sikap cap jempol darah.

Kedua, sebagai tool of analysis atau alat analisa, maka isme tadi menjadi perangkat ilmu untuk membuat analisa mengenai fenomena social yang terjadi. Saat ada separatisme misalnya, hal ini bisa dijelaskan dengan kacamata sosialisme atau kapitalisme. Fenomena kehidupan sekuler atau relegius, relasi magis yang berkembang di masyarakat dalam pengobatan penyakit atau pemecahan masalah, eksploitasi alam atau tenaga manusia, floating mass juga penggerakan massa, semua bisa dinalisa lewat kaca sosialisme atau kapitalisme tadi.

Ketiga, sebagai alat kekuasaan, tentu di sini adalah penguasa pemegang ideology akan memakai untuk mengarahkan masyarakat, pada pelanggengan kekuasaannya. Isme bersama tadi akan sangat efektif untuk menundukkan masyarakat yang mencoba bersikap kritis terhadap kekuasaannya, dengan memberikan cap atau label negative kepada para pengkritisnya. Sebagai penguasa ia akan memberikan penafsiran tunggal atas paham bersama tadi. Maka penafsiran dari anggota masyarakat yang berbeda dengan penafsiran “resmi” tentu dianggap sebagai penyelewengan.

Ideologi dan Era keterbukaan informasi

Era keterbukaan yang dipicu oleh perkemnbangan TI belakangan ini, bisa jadi menjadi penguat atau justru memudarkan ideology yang sudah ada. Suatu bangsa atau masyarakat, rasanya semakin sulit untuk membentengi dirinya untuk tidak terpengaruh ideology lain. Sangat mudah sekali, semua ideology baik yang berbasis agama atau pemikiran falsafati manusia masuk di hamper semua sector kehidupan manusia, mulai dari sekolah, kampus, rumah tangga, korporat bahkan kantor-kantor pemerintahan.

Seiring dengan perkembangan kedewasaan taraf berpikir masyarakat dan semakin terpelajarnya masyarakat (civilized society), sebenarnya gempuran idologi ini akan ditangapi dengan arif dan penuh kedewasaan yang jauh dari huru-hara kekerasan atau kerusuhan. Bahkan semakin cerdas masyarakat akan semakin kritis dengan kebijakan para pemegang kekuasaan dan tentu tidak akan serta merta menerima setiap penjelasan yang diberikan pemerintah.

Hanya saja kepentingan akan paham-paham ini menjadikan adanya kepentingan kelompok, pribadi, kekuasaan sehingga memungkinkan terjadinya friksi dan perpecahan di masyarakat, bahkan atas nama kekuasaan maka paham-paham ini akan sangat mungkin diselengwengkan penafsirannya.

Padahal di dunia akademik, adalah sangat lumrah mendiskusikan berbagai macam ideology yang ada dan itu tidak lanta dianggap berbahaya bagi kekuasaan atau keutuhan sebuah bangsa atau masyarakat. Tetapi memang sebatas diskusi dan wacana bahkan sangat mungkin  muncul pemikiran konstrukktif yang semakin membuat sebuah ideology semakin dewasa menuju kematangannnya.

About basstk

melangkah dan melangkah miski terkadang atau bahkan serasa letih dan berat serta lelah
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s